Kamis, 29 Desember 2011

Rivalitas dan Konflik Supporter di INDONESIA

I. PENDAHULUAN

Tidak ada yang salah dari fanatisme terhadap salahsatu klub sepakbola. Dukungan supporter dengan cara-caranya tersendiri terhadap tim kesayangannya adalah hal yang lumrah dalam dunia sepakbola baik nasional maupun internasional. Loyalitas yang berdampingan dengan fanatisme supporter-supporter di tanah air telah menjadi “bumbu-bumbu penyedap” disetiap perhelatan sepakbola di tanah air. Tak jarang hal ini memancing perhatian insan-insan sepakbola internasional yang melihat antusiasme dan fanatisme masyarakat Indonesia terhadap dunia sepakbola sebagai hal yang luar biasa. Fanatisme, antusiasme, dan loyalitas para supporter di Indonesia dapat dikatakan sejajar dengan supporter-supporter di liga-liga internasional. Bahkan Franz Beckenbeuer terkaget-kaget melihat Fanatisme, antusiasme, dan loyalitas para supporter di Indonesia (Kita dapat melihat bahwa Indonesia sebagai negara yang berada di wilayah Asia Tenggara, memiliki atmosfir sepakbola yang bagus dilihat dari sudut antusiasme penonton di setiap perhelatan sepakbola).
Sayangnya atmosfir sepakbola yang bagus ini tidak didukung oleh jiwa sportifitas baik dari kalangan penyelenggara sepakbola, insan-insan yang terlibat langsung dalam sebuah pertandingan sepakbola dan pemain keduabelas dari sebuah tim sepakbola Supporter. Pernyataan ini bukan tanpa bukti, peristiwa-peristiwa seperti kerusuhan, bentrokan, atau perkelahian baik diluar maupun di dalam sebuah pertandingan kerap terjadi. Kepemimpinan wasit, ketidaksiapan Panpel (baik masalah tiket ataupun kenyamanan selama menonton pertandingan) dan ulah sejumlah oknum dalam memprovokasi keributan adalah contoh-contoh penyulut dari hal tersebut. Dapat digarisbawahi bahwa mental sportifitas rasanya belum sikron dengan fanatisme insan-insan sepakbola di Indonesia.
Satu hal lagi yang paling sering menyulut kerusuhan, bentrokan, atau perkelahian dalam dunia sepakbola di Indonesia adalah masalah rivalitas diantara klub-klub sepakbola. Sebetulnya tidak ada yang salah mengenai rivalitas antara klub-klub sepakbola asal dalam koridor sportifitas. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa sulit menghindari gesekan-gesekan antar supporter dalam rivalitas tidak hanya di Indonesia di dunia internasional pun hal ini kerap terjadi. Namun, supporter-supporter di luar sana mungkin bisa mensinkronisasikan antara fanatisme dengan sportifitas sehingga fanatisme mereka tidak jatuh dalam fanatisme yang sempit. Mereka sedikitnya masih bisa menerima perbedaan, bisa duduk berdampingan dalam sebuah pertandingan dengan warna yang berbeda. Itulah yang tidak dimiliki oleh sebagian jiwa-jiwa fanatisme di Indonesia

II. RIVALITAS DAN KONFLIK SUPPORTER YANG TERJADI

Jiwa-jiwa fanatisme sepakbola di Indonesia telah jatuh kedalam jurang fanatisme yang sempit sehingga mereka sangat sulit menerima perbedaan, mereka telah dibutakan oleh kebencian terhadap rivalnya dan lebih parahnya budaya-budaya seperti ini telah menyebar kepada generasi-generasi baru supporter di Indonesia (Liat saja anak-anak kecil yang sudah bisa menyanyikan yel-yel kebencian terhadap salah satu klub di Indonesia, padahal apakah sebenarnya mereka mengerti. Jiwa-jiwa fanatisme sempit ini kemudian menjelma menajadi sebuah komunitas yang khusus menebarkan kebencian-kebencian terhadap rival mereka atau yang lebih dikenal dengan sebutan Divisi Propaganda dari sebuah komunitas supporter (Mungkin mereka mengikuti jejak Hitler ketika mempropagandakan Fasisme). Mereka dapat dibilang sangat pintar dalam menyebarkan propaganda-propaganda yang secara garis besar menyangkut rivalitas. Hal tersebut ditunjang dengan media internet yang sekarang menjadi mudah untuk diakses masyarakat sehingga mereka lebih leluasa dalam melancarkan aksinya. Dilihat dari segi psikologis, faktor-faktor seperti kebencian-kebencian yang berlebihan, sakit hati atas tindakan-tindakan rival mereka dan egosentris yang menguasai pikiran mungkin menjadi latar belakang mereka bersatu membentuk sebuah divisi propaganda tersebut. Dilain pihak keberadaan suatu divisi propaganda sebuah supporter juga pastinya akan memicu kemunculan divisi propaganda dari supporter-supporter yang lain dan pada akhirnya adu propaganda pun tak dapat dihindarkan.
Hasil dari propaganda-propaganda tersebut dapat dilihat dari nyanyian atau yel-yel ketika sebuah tim bertanding, nada-nada hinaan terhadap klub rival lebih sering terdengar dibandingkan dengan nyanyian atau yel-yel untuk menyemangati pemain ketika bertarung di lapangan. Atribut-atribut seperti baju dan atribut lain yang bernada hinaan terhadap klub rival juga semakin tersebar luas di masyarakat. Bahkan untuk ukuran anak kecil pun ada, lebih parah pembuatan atribut-atribut yang mengandung unsur rivalitas tidak hanyan diproduksi oleh divisi propaganda saja, produsen-produsen yang hanya memikirkan segi komersil pun ikut meramaikan atribut-atribut yang berbau rivalitas (secara tidak langsung para pedagang-pedagang atribut pun menjelma sebagai divisi propaganda dadakan). Satu hal lagi yang paling sering menyulut kerusuhan, bentrokan, atau perkelahian dalam dunia sepakbola di Indonesia adalah masalah rivalitas diantara klub-klub sepakbola. Sebetulnya tidak ada yang salah mengenai rivalitas antara klub-klub sepakbola asal dalam koridor sportifitas. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa sulit menghindari gesekan-gesekan antar supporter dalam rivalitas tidak hanya di Indonesia di dunia internasional pun hal ini kerap terjadi. Namun, supporter-supporter di luar sana mungkin bisa mensinkronisasikan antara fanatisme dengan sportifitas sehingga fanatisme mereka tidak jatuh dalam fanatisme yang sempit. Mereka sedikitnya masih bisa menerima perbedaan, bisa duduk berdampingan dalam sebuah pertandingan dengan warna yang berbeda. Itulah yang tidak dimiliki oleh sebagian jiwa-jiwa fanatisme di Indonesia
Fenomena perilaku kekerasan penonton yang terjadi dalam sepakbola telah menyebabkan banyak kerugian, tidak saja bagi orang-orang yang berpartisipasi langsung dalam sepakbola itu sendiri, seperti organisasi sepakbola, dan pemerintah daerah penyelenggara, tetapi juga bagi masyarakat pada umumnya. Pada setiap penyelenggaraan Liga Sepakbola Indonesia, perilaku buruk yang ditunjukkan para penonton sepakbola Indonesia masih sering terjadi sampai sekarang. Tidak ada satu solusi yang mampu memecahkan persoalan kekerasan dalam olahraga sepakbola ini, karena faktor pemicunya banyak, juga tak ada solusi yang sederhana, karena penyebabnya begitu kompleks. Penelitian ini lebih diarahkan pada pemahaman konsep kekerasan yang dilakukan oleh penonton sepakbola pada umumnya, khususnya penonton sepakbola yang berada di Stadion Siliwangi Bandung, selama berlangsungnya Liga Sepakbola Indonesia yang berlangsung di stadion Siliwangi Bandung. Penelitian ini menggunakan paradigma penelitian kualitatif, dengan desain Studi Kasus. Data penelitian dikumpulkan melalui observasi berpartisipasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Subjek penelitian adalah para penonton sepakbola di stadion Siliwangi Bandung yang terpilih oleh peneliti sesuai dengan ciri-ciri yang sudah ditentukan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa.
1. Tindakan kekerasan kebanyakan dilakukan oleh para penonton tertentu yang sudah berpengalaman dalam menonton sepakbola,
2. Peristiwa kekerasan terjadi di dalam dan di luar stadion,
3. Karakteristik perilaku kekerasan antara lai: tindakan kekerasan tidak direncanakan dan aktivitasnya sebentar,
4. Kondisi-kondisi yang menyebabkan terjadinya tindakan kekerasan antara lain: harapan yang tinggi akan kemenangan tim, keterikatan yang kuat dengan tim, tingkat ketegangan yang tinggi, kehadiran penonton lawan di stadion, kekalahan tim terus-menerus, petugas lapangan yang dianggap kurang kompeten memimpin pertandingan, kehadiran petugas keamanan.
5. Tindakan kekerasan penonton bisa berawal dari perilaku pemain di lapangan atau keributan penonton di tempat lain dan menyebar ke arah penonton lainnya.
6. Konflik atau yang menyebabkan rivalitas terjadi karena adanya unsur judi yang di lakuka para supporter
7. Konflik yang menyebabkan rivalitaspun terjadi karena adanya dorongan akibat mengkonsumsi minuman keras.
8. Adanya provokator dari pihak-pihak tertentu


III. LANDASAN TEORI

Konflik lahir dari kenyataan akan adanya perbedaan-perbedaan baik dari ciri badaniah, emosi, kebudayaan, kebutuhan, kepentingan maupun pola-pola prilaku antar individu atau kelompok dalam masyarakat. Perbedaan-perbedaa ini memuncak menjadi konflik ketika sistem sosial masyarakat tidak dapat mengakomodasi perbedaan-perbedaan tersebut. Perasaan-perasaan seperti amarah dan rasa benci sedemikian rupa mendorong masing-masing pihak untuk menekan atau menghancurkan individu atau kelompok menjadi lawan. Diketahui bahwa sebuah konflik selalu disertai dengan luapan-luapan perasaan tidak suka, benci, dan amarah. Dari luapan-luapan perasaan tersebut timbul keinginan untuk menghancurkan lawan atau pihak lain. Apabila keinginan tersebut diwujudkan dalam sebuah tindakan ‘menghancurkan lawan’ maka pada saat itulah terjadi kekerasan. Dengan demikian dapat kita katakan bahwa kekerasan adalah bentuk lanjutan dari sebuah konflik sosial. Konflik adalah proses sosial dimana orang perorangan atau kelompok manusia berusaha untuk memenuhi tujuannya menantang pihak lawan yang disertai dengan ancaman atau kekerasan. Proses sosial yang terjadi di sini dimulai dari usaha mempertajam perbedaan diantara individu-individu atau kelompok-kelompok yang diantara lain menyangkut ciri fisik, emosi, unsur-unsur kebudayaan, pola-pola prilaku, gagasan, pendapat serta kepentingan sehingga akhirnya terjadi pertikaian/pertentangan yang tujuanya adalah mengalahkan pihak lawan dengan cara ancaman atau kekerasan. Ancaman kekerasan disini merupakan salah satu piliha terakhir, sebab apabila pihak “mereka” sebelumnya sudah bersedia menerima kekalahan dalam arti mau menerima tuntutan dari pihak “kami”, maka ancaman kekerasan batal dilaksanakan .
Namun demikian, perbedaan atau perselisihan dalam hubungan sosial yang intim merupakan potensi konflik yang sewaktu-waktu daat lebih meledak atau menghancurkan dari pada konflik yang terjadi dalam hubungan sosial parsial. Dalam hubungan yang intim, umumnya orang menekan rasa permusuhan demi menghindari konflik. Namun hal itu akan menyebabkan akumulasi permusuhan yang sewaktu-waktu bisa meledak. Tindakan yang mengabaikan perbedaan pendapat itu tidak ada artinya bila suatu konflik itu meledak. Bila hal itu terjadi, masalah atau elemen tambahan juga dapat muncul ke permukaan. Konflik dan rivalitas merupakan yang banyak dijumpai dalam kenyataan hidup manusia sebagai mahluk sosial: kategori statistik, kategori sosial, kelompok sosial, kelompok tidak teraturm dan organisasi formal. Dasar dari adanya kelompok-kelompok tersebut tipe-tipenya dapat diukur dari faktor-faktor berikut:
1. kesadaran akan identitas kelompok
2. adanya hubungan kelompok
3. orientasi pada tujuan yang telah disepakati
Hal-hal yang mengawali suatu konflik antar kelompok sosial adalah:
- ambiguitas peranan.
- persaingan dalam memperoleh sesuatu yang nilainya tinggi.
- kesalingketergantungan/interdependensi dari tugas.
- hambatan-hambatan komunikasi.
- konflik-konflik yang sebelumnya tidak diatasi secara nyata.
- perbedaan dalam persepsi-ersepsi individuual.
- perbedaan dalam kpribadian, kebutuhan, nilai, norma, kepentingan, dan tujuan.

IV. KESIMPULAN



Tidak ada yang salah dari fanatisme terhadap salahsatu klub sepakbola. Dukungan supporter dengan cara-caranya tersendiri terhadap tim kesayangannya adalah hal yang lumrah dalam dunia sepakbola baik nasional maupun internasional. Loyalitas yang berdampingan dengan fanatisme supporter-supporter di tanah air telah menjadi “bumbu-bumbu penyedap” disetiap perhelatan sepakbola di tanah air. Jiwa-jiwa fanatisme sepakbola di Indonesia telah jatuh kedalam jurang fanatisme yang sempit sehingga mereka sangat sulit menerima perbedaan, mereka telah dibutakan oleh kebencian terhadap rivalnya dan lebih parahnya budaya-budaya seperti ini telah menyebar kepada generasi-generasi baru supporter di Indonesia (Liat saja anak-anak kecil yang sudah bisa menyanyikan yel-yel kebencian terhadap salah satu klub di Indonesia, padahal apakah sebenarnya mereka mengerti. Jiwa-jiwa fanatisme sempit ini kemudian menjelma menajadi sebuah komunitas yang khusus menebarkan kebencian-kebencian terhadap rival mereka atau yang lebih dikenal dengan sebutan Divisi Propaganda dari sebuah komunitas supporter (Mungkin mereka mengikuti jejak Hitler ketika mempropagandakan Fasisme)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar