Senin, 02 Januari 2012
FILSAFAT: Aksiologi Masalah Nilai
AKSIOLOGI MASALAH NILAI
I. PENDAHULUAN
Apakah yang baik itu ?
Berabad-abad yang lampau, suatu ketika Socrates menyusuri jalan-jalan di kota Athena seraya mengucapkan kata-kata yang ini termasyhur ,”kenalilah diri sendiri”.dan berabad-abad sesudah masa hidupnya , seorang penyair terkenal Alexander pope mengatakan, “penyelidikan mengenai umat manusia dalam arti kata yang sebenarnya hendaknya ditujukan kepada manusianya sendiri.” Namun andapun tentu sependapat bahwa seandainyakita dapat menyetujui kedua contoh tersebut , liku-liku masalahnya belum terjawab sepenuhnya baik oleh ajaran Socrates maupun oleh ajaran penyair Alexander Pope di atas.
Sesungguhnya masalah pengenalan diri sendiri meluas dan merembes kesegenap masalah lain yang telah kita pelajari. Mengenal diri sendiri secara memadai berarti mengenal dunia tempat kita hidup.
Makna yang di kandung oleh ‘nilai’ dan ‘yang –baik’
sejumlah penggunaan istilah ‘baik’
Perhatikan istilah baik dalam pernyataan-pernyataan dibawah ini:
“pembelian ini baik”
“ia orang baik”
“ini pisau baik”
“kiranya baik menjadi orang sehat”
Hendaknya di catat bahwa kalimat yang terakhir dapat kita ubah bentuknya menjadi “kesehatan merupakan sesuatu yang baik”. Tetapi kalimat-kalimat yang lain tidak dapat kita ubah secara demikian .Misalnya jika saya mengatakan “ ini pisau baik”,sudah pasti yang saya maksudkan berbeda dengan apabila saya mengatakan “ pisau merupakan sesuatu yang baik”, dalam hal ini , kesehatan dalam dirinya sudah mengandur unsure kebaikan ,sedangkan pisau dikatakan baik karena dapat menjadi alat untuk melakukan sesuatu.
II. PEMBAHASAN
Masalah ‘Baik’ dan masalah ‘ nilai’
Kata ‘baik’di pakai dalam arti yang berbeda-beda di dalam pernyataan atas .masalahnya akan bercampur aduk jika perbagai istilah ‘baik’ tersebut di beri makna yang setara.,terkecuali jik kita dapat menunjukkan bahwa memang terdapat inti makna yang sama yang terdapat dalam segenap penggunaan tadi. seseorang baru saja membeli kursi dan seorang temanya ,seelah mendengar berapa pembayaran untuk itu kemudian , mengatakan : “suatu pembelian yang baik”, yang dimaksudkan teman yang tadi adalah bahwa uang yang dibayarkan untuk membeli kursi tersebut sesungguhnya lebih rendah dibandingkan dengan nilai kursi yang sebenarnya .dengan kata lain “ pembelian yang baik”merupakan pembelian yang di dalam nilai uang yang dibayarkan lebih rendah dibandingkan dengan nilai barang yang di beli.nampak disini ada suatu hubungan tertentu antara pengertian ‘baik’ dengan pengertian ‘nilai’.
Nilai kesusilaan.
Dalam kalimat “ia orang baik” mengandung dua makna.pertama,pernyataan yang katakanlah ,dibuat oleh seorang majikan mengenai karyawannya yang baik dalam pekerjaannya dan kedua seseorang yang cara hidupnya dapat dipakai sebagai teladan.dalam hal yang pertama ,agaknya makna yang dikandung ialah, orang yang bersangkutan bersifat efisien dn berharga untuk menjalankan pekerjaannya. Dalam hal yang kedua agaknya ada nilai yang yang tersangkut yaitu kesusilaan.dalam hal ini , orang yang baik ialah orang yang mempunyai kehidupan yang bernilai di tinjau dari sudut pandang kesusilaan.Artinya kehidupan orang tersebut patut dihargai di tinjau dari segi kesusilaannya
Filsafat nilai.
Aksiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakekat nilai, yang umumnya di tinjau dari sudut pandangan kefilsifatan.didunia ini terdapat banyak cabang yang khusus , seperti ekonomi, estetika(keindahan), etika(kebaikan), filsafat agama, dan epistemology(kebenaran).
Aksiologi juga menyelidikimacam pernyataan ini, sesungguhnya ‘nilai’ merupakan pengertian yang lebih luas lingkupnya dari ‘yang baik’ dan pengertian tersebut menyangkut perangkat hal yang di setujui dn yang tidak di setujui.
Yang –bernilai dan yang –di beri nilai
Dalam pernyataan “ kesehatan merupakan sesuatu yang baik”, dan mengubah bentuknya menjadi “kesehatan merupakan sesuatu yang bernilai”.dimisalkan setelah mendengarkan uapaan tersebut orang pesimis mengatakan “ omong ksong, kesehatan bukan merupakan sesuatu yang bernilai, karena sekadar memperpanjang kehidupan yang tidak bahagia”.pendapatnya member nilai negative atau menilai rendah kepada kesehatan dan kehidupan.dan orang optimis mengatakan “tidak, kesehatan merupakan sesuatu yang bernilai ,bukan karena saya menyukainya atau memberi nilai kepadanya, melainkan karena sudah mengandung nilai di dalamnya .contoh yang demikian ini menunjukkan adanya dua maacam hal:sesuatu yang sejak semula sudah bernilai dan sesuatu yang diberi nilai.
Nilai intrinsic dan nilai instrumental.
Untuk lebih jelasnya mengenai nilai intrinsic dan nilai instrumental kita terapkan pada objek tertentu, misalnya pisau. Apakah suatu pisau dikatakan baik karena mengandung kualitas-kualitas pengirisan di dalamnya?atau apakah merupakan pisau yang baik karena dapat saya gunakan untuk mengiris?ataukah akhirnya merupakan pisau yang baik karena hubungannya dengan saya , yaitu suatu saat kebetulan dapat saya gunakan untuk mengiris sesuatu? Dalam hal yang pertama rang berbicara mengenai nilai intrinsic. Dan yang kedua nilai instrumental. Perbedaan tersebut hendaknya jangan diambil terlebih dini untuk mendahului jawaban atas pernyataan apakah segenap nilai itu bersifat intrinsic, instrumental,bersifat keduanya , atau tidak bersifat keduanya.
Situasi-nilai
Salah satu masalah yang paling sulit didalam aksiologi ialah menentukan apakah didalam suatu situasi –nilai terdapat tiga atau empat factor. Masalah ini dapat didekati dari berbagai sudut. Kita dapat mempertanyakan : apakah perbuatan penilaian itu merupakan perbuatan akali yang khusus atau merupakan perbuatan pengenalan belaka? Dengan kata lain apakah kita mempunyai kemampuan melakkan penilaian yang khas tiada duanya atau apakah kita sekedar secara akali mengenal kualitas nilai suatu objek? Atau , dapat juga kita ajukan pertanyaan , apakah ditinjau dari sudut ontology nilai itu merupakan kenyataan ataukah bersifat pragmatis?dengan ungkapan yang lain , artinya ,apakah nilai di gunakan sbagai kata benda, kata kerja ataukah sebagai kedu-duanya.
Keharusan dan kenyataan.
Masalah keharusan dan kenyataan merakan masalah yang penting .ilmu pemgetahuan mengatakan bahwa dirinya bebas dari tanggaan-tanggapan penilaian , dan yang demikian ini secara mutlak terutama terdapat ilmu pengetahuan kealaman.
Jika orang mengatakan bahwa fisika terbebas dari tanggapan-tanggapan penilaian , ini berarti bahwa tidak ada seorangpun yang mengatakan fisika merupakan ‘keharusan’atau merupakan sesuatu yang factor-faktornya merupakan harapan , yang di sukai atau tidak sukai .suatu penilaian senantiasa menyangkut ‘ apa yang seharusnya ada/ terjadi’sedangkan fisika melukiskan ‘ apa yang senyatanya ada/ terjadi’.hendaknya kita memilahkan antara keharusan dan kenyataan . begitulah teori melukiskankenyaaan mengenai halnya, sedangkan tanggaapan-tanggapan penilaian setidak-tidaknya menyangkut apa yang seharusnya ada / terjadi.
Sejumlah makna ‘nilai’.
Perkataan ‘nilai’ mempunyai macam makna berikut ini:
1. Mengandung nilai (artinya, berguna)
2. Merupakan nilai (baik,atau benar, atau indah)
3. Mempunyai nilai(merupakan objek keinginan, mempunyai kualitas yang dapat menyebabkan orang mengambil sikap ‘menyetujui’, atau mempunyai niilai tertentu ).
4. Memberi nilai (menanggapi sesuatu sebagai hal yang di inginkan atau sebagai hal yang menggambarkan nilai tertentu).
1. Nilai Merupakan Kualitas Empiris yang Tidak Dapat Di Definisikan
KUALITAS MELUKISKAN SESUATU OBKEK. Kualitas ialah sesuatu yang dapat disebutkan dari suatu objek, dengan kata lain kualitas ialah suatu segi dari barang sesuatu yang merupakan bagian dari barang tersebut dan dapat membantu melukiskanya. Kualitas dapat dipakai sebagai suatu kata sifat, misalnya dapat dikatakan “pisang itu kuning.” Suatu kata sifat mengatakan sesuatu mengenai objek yang memperoleh penyifatan (kualifikasi). Dalam hal ini dikatakan bahwa suatu objek mempunyai sesuatu sifat.
KUALITAS-KUALITAS EMPIRIS. Kualitas empiris ialah kualitas yang diketahui atau dapat diketahui melalui pengalaman. Diandaikan anda tidak mengetahui apa yang dinamakan warna kuning jika didefinisikanya, dalam hal ini apakah yang terjadi? Kuning ialah suatu suatu cahaya dengan panjang gelombang, amplitudo, dan intensitas tertentu, kiranya boleh dipastikan anda tidak akan mengetahui apakah warna kuning itu.
Sebagai kualitas empiris, kuning tidak pernah berhenti didefinisikan. Begitu pula halnya dengan pengertian ‘baik’ – artinya pengertian nilai. Di dalam bukunya yang berjudul Principia Ethica, G. E. More mengatakan bahwa ‘baik’ merupakan pengertian-pengertian yang bersahaja.
SESAT-PIKIR NATURALISTIS (NATURALISTIC FALLACY). Segenap percobaan untuk mendefinisikan ‘nilai’ bedasarkan atas hal-hal yang lain (misalnya ‘rasa nikmat’ atau ‘kepentingan’) oleh moore dinamakan sesat pikir naturalistis. A. C. Ewing, dalam bukunya yang berjudul Definition of the Good, secara cermat telah membuat ikhtisar dan membahas secar mendalam usaha-usaha yang menggambarkan sesat-pikir naturalistis. Jika Moore dan Ewing mengatakan bahwa nilai tidak dapat didefinisikan, maka yang mereka maksudkan ialah nilai-nilai yang tidak dapat dipersamakan dengan pengertian-pengertian yang setara.
PEMAHAMAN ATAS KUALITAS-KUALITAS NILAI. Nilai merupakan satu kualitas objek atau perbuatan tertentu, maka objek perbuatas tersebut dapat didefinisikan bedasarkan atas nilai-nilai, tetapi tidak mungkin sebaliknya. Sebuah kualitas sebagai pengertian semesta (universal) tidak dapat dialami melalui alat-alat indrawi; hanya objek-objek yang memiliki kualitas tertentu dapat dialami secara inderawi.
Sebuah pengertian semesta hanya dapat dialami secara akali. Bahwa nilai merupakan kualitas empiris berarti kita dapat mengalami dan memahami
Secara langsung dan kualitas yang bersangkutan yang terdapat pada suatu objek tertentu. Dengan demikian suatu objek yang indah terlihat indah atau keindahan secara akali langsung dipahami sebagai kualitas suatu objek. Misalnya, orang mengatakan bahwa nilai terdapat pada rasa nikmat, kemudian ada yang bertanya “Apakah rasa nikmat itu baik?,” atau “Apakah baik jika orang memberikanrasa nikmat kepada orang lain?.” Jikia yang baik dapat dipulangkan kepada rasa nikmat, pertanyaan yang pertama tidak mengandung makna, atau setidaknya merupakan tautologi, dan kalimat yang terakhir harus dibaca.
VERIFIKASI MELALUI PENGALAMAN. Nilai dapat dijawab dengan jalan melakukan penyelidikan atau serta pelukisan secara empiris. Suatu tanggapan penilaian merupakan tanggapan empiris, dengan segala kesulitan serta kesalahan yang dapat melekat pada tanggapan-tanggapan empiris. Verifikasi terhadap tanggapan-tanggapan empiris yang lain, yang dengan jalan mengalami kualitas yang bersangkutan.
TOLAK UKUR KAJIAN TERHADAP NILAI. Kenyataan bahwa nilai tidak dapat didefinisikan tidak berarti nilai tidak bisa dipahami. Dimisalkan anda dan teman akrab anda tidak bersepakat mengenai nilai. Diandaikan anda berdua diperkenalkan kepada seorang gadis, dan salah seorang diantara anda berdua mengatakan “ia gadis cantik,” sedang yang seorang lagi mengatakan “ia gadis jelek.” Kiranya jelas nilai bahwa jika nilai bersifat subjektif, maka sesungguhnya dalam hal ini tidak terdapat ketidaksepakatan dalam arti kata yang sebenarnya, karena masing-masing diantara anda berdua mengatakan bagaimana gadis tersebut menampak pada anda masing-masing. Tapi yang perlu diingat, disini kita tengah menguji sudut pandang seseorang yang mengatakan bahwa nilai merupakan kualitas empiris.
Tolak ukur bagi masing-masing nilai yang khusus, merupakan bahan pembahasan bagi ajaran-ajaran mengenai nilai. Dengan demikian, maka tolak ukur bagi keindahan dibahas dalam estetika. Penyelesaian terhadap masalah nilai yang kini sedang kita bicarakan mempunyai daya tarik tertentu. Tetapi terhadapnya juga terdapat keberatan-keberatan yang diajukan. Meskipun kita sama-sama sepakat bahwa nilai merupakan kualitas tapi tetapsaja terdapat erbedaan yang hakiki.
2. Nilai Sebagai Objek Suatu Kepentingan
SETIAP NILAI MENYANGKUT SIKAP. Sering orang tidak sepakat menegenai nilai-nilai, kiranyasudah jelas. Ada pula yang mengatakan bahwa masalah nilai sesungguhnya merupakan masalah enggutamaan, dan ‘degustibus non est disputandum’ (mengenai masalah selera orang tidak perlu mempertentangkanya). Kiranya juga jelas juga jelas bahwa perasaan senantiasa berhubungan erat dengan tanggapan-tanggapan penilaian.
Jika seseorang memepertimbangkan tanggapan-tanggapan penilaian yang lain yang dibuatnya mengenai barang sesuatu atau suatu tindakan, maka pastilah akan dijumpai semacam “keadaan, perangkap, sikap atau kecendrungan untuk setuju atau menentang”. Dalam hal ini tersedia tiga macam kemungkinan pilihan: (1)sikap setuju atau menentang tersebut sama sekali tidak bersangkut paut dengan masalah nilai; (2)sikap tersebut bersangkutan dengan sesuatu yang tidak hakiki; (3) sikap tersebut merupakan ‘sumber pertama serta ciri yang tetap dari segenap nilai. Kemungkinan pertama kiranya sudah jelas. Kemungkinan kedua berarti bahwa, misalnya sikap tersebut ditimbulkan pleh sesuatu kualitas nilai, tetapi bukan merupakan bagian dari hakekatnya.
NILAI IALAH KEPENTINGAN. Menurut ralph barton perry setiap objek yang ada dalam kenyataan maupun dalam pikiran, setiap perbuatan yang dilakukan maupun yang dipikirkan, dapat memperoleh nilai jika pada suatu ketika berhubungan subjek-subjek yang mempunyai kepentingan. Dengan kata lain, jika seseorang mempunyai kepentingan pada suatu apapun, maka hal tersebut mempunyai nilai. Sesungguhnya tidak ada suau hal pun yang dapat disebut tetapi tidak dapat diletaki nilai tertentu, bedasarkan kenyataan hal tertentu telah dipilih mencapai tujuan yang masuk akal oleh sesuatu pemikiran yang mempunyai kepentingan.
SEJUMLAH KEBERATAN YANG DAPAT DIAJUKAN. Agaknya ajaran perry hendak menempatkan segenap nilai sepenuhnya dalam kedudukan yang ditentukan oleh manusia. Artinya, bagi orang yang tidak mempunyai kepentingan pada katakanlah kesusilaan, maka etika tidak bernilai. Begitupula halnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang benar. Tetapi dalam kenyataanya orang merasa bahwa kebenaranya, kebaikan, dan keadilan mempunyai nilai, atau bernilai, tanpa mengingat ada atau tidaknya kepentingan seseorang terhadap hal-hal tersebut.
Pemahaman mengenai perbedaan dalam macam-macam nilai seharusnya menyebabkan orang mengadakan pembedaan pula mengenai macam-macam kepentingan, dengan cara berpikir demikian berrarti bahwa nilai-nilai tetap berhubungan dengan kepentingan-kepentingan, tetapi tidak dipandan menurut kemauan sendiri dan seluruhnya bersifat nisbi, dalam arti tidak dipandang semata-semata bersifat subjektif. Bila kita renungkan makna kata ‘kepentingan’, kiranya kita cenderung mengatakan bahwa apabila seseorang mempunyai kepentingan pada barang sesuatu, maka yang demikian ini didasarkan atas alasan-alasan tertentu. Berhubung dengan itu, kebenaran itu bernilai karena dapat dipakai sebagai sarana memenuhi maksud-maksud tertentu.
3. Teori Pragmatis Mengenai Nilai
Sejumlah hal telah saya perbincangkan yang bersifat penolakan terhadap teori nilai yang didasarkan atas kepentingan kiranya memnyebabkan tampilan teori lain, yaitu teori pragmatis. Hendaknya diingat bahwa pragmatis mendasarkan diri atas akibat-akibat , dan begitu pula halnya dengan teori pragmatisme mengenai nilai.
NILAI SEBAGAI HASIL PEMBERIAN NILAI. Meskipun kebaikan kiranya bersangkutan dengan akibat-akibat, namun kebaikan itu tidak sekedar bersangkutan dengan hasil-hasil jangka pendekdari suatu keinginan yang dangkal.
Hubungan sarana –tujuan.
Dalam theory of valuation, Dewey mengatakan bahwa pemberian nilai menyangkut perasaan ,keinginan, dan sebagainya . pemberian nilai tersebut juga menyangkut tindakan akal untuk menghubungkan sarana dengan tujuan.seluruh keadaan harus di periksa ulang dan harus di ramalkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi , seelum orang dapat menetapkan nilai pada barang sesuatu atau perbuatan tertentu.
Menurut Dewey , masalah yang sebenarnya adalah pemberian nilai secara tepat , dan yang demikian ini besangkutan dengan campur-tangan akal secara aktif atau tanggapan-tanggapan yang di dasarkan fakta dan tujuan –tujuan yang terbayang .pemberian nilai berarti berkenaan dengan bahan-bahan factual yang sudah tersedia dan berdasarkan atas bahan-bahan tersebut perbuatan-perbuatan serta objek-objek dapat di hubungkan dengan tujuan-tujuan yang terbayang.pemberian nilai adalah “ketentuan-ketentuan penggunaan berkaitan dengan kegiatan manusia melalui generalisasi-generalisasi ilmiaah sebagai sarana menspai tujuan –tujuan yang di harapkan”. Jika seseorang hendak menilai kebenaran pernyataan-pernyataan manapun ,maka yang diperlukan adalah pengetahuan mengenai sejumlah fakta tertentu dan juga tujuan-tujuan yang hendak dicapai dengan jalan mengadakan perbuatan-perbuatan serta pernyataan-pernyataan tersebut.
Sarana dan tujuan tidak terpisahkan.
Dewey juga memperingatkan agar orang tidak hanya mempertimbangkan tujuaan sebagai pembenaran bagi setiap macam sarana yang digunakan, karena sarana itu sendiri dapat menimbulkan akibat-akibat yang berbeda sama sekali dengan apa yang dikehendaki atau di ramalkan.
Nilai-nilai yang diciptakan oleh situasi kehidupan.
Peberian nilai,seperti halnya semua proses akali , bermula hanya apabila orag menghadapi sesuatu masalah.Artinya, bermula pada suatu keadaan yang didalamnyaa terdapat ktegangan dan tiadanya ketertiban.menurut Dewey, setiap situasi menciptakan nilai-nilai. Berhubung dengan itu sesungguhnya tidak ada nilai-nilai yang abadi , yang ada hanyalah nilai-nilai yang berubah –ubah, yang tergantung pada keadaan . selama hasil penilaian anda memajukan tujuan-tujuan bersama ,maka selama itu hasil penilaian tujuan tersebut benar.
Ketidaksepaakatan mengenai niilai-nilai .
dalam hal semacam ini Dewey akan mengatakan bahwa ketidaksepakatan itu ada dua macam , yaitu ketidaksepakatan factual dan ketidak sepakatan semu.jika sepakat mengenai tujuan yang hendak di capai , maka pastilah ketidaksepakatan tersebut menyangkut cara-cara yang dikehendaki untuk dilakukan dalam mencapai tujuan dengan menggunakan sarana-srana tertentu. Misaalnya, dua orang dokter mungkin bersepakat bahwa melestarikan jiwa seseorang merupakan tujuan yang di kehendaki , tetapi mereka mungkin tidak sepakat mengenai sarana-sarana yang di gunakan untuk melestarikan jiwa seseorang yang sedang sakit. Yang demikian ini di namakan ketidaksepakatan faktual.
Sebaliknya jika terdapat ketidaksepakatan mengenai tujuan , maka sesungguhnya dalam hal ini tidak munggkin terdapat pertentangan pendapat. Karena sudah jelas bahwa apa yang dapat mendorong tercapainya suatu keadaan yang lain, misalnya , orang yang satu menginginkan uang, sedangkan orang yang lain menghendaki benda tak bergerak . dalam hal ini sesungguhnya yang terdapat ialah ketidaksepakatan semu belaka.
4.Nilai sebagai esensi.
Keberadaan nilai-nilai dari sudut ontology.
Adalah menarik bahwa kaum pragmaatis memahamkan hubungan antara nilai dengan yang tahu yang sedemikian rupa sehingga dalam hal ini pandangan mereka dekat dengan pandangan kaum idealis. Sesungguhnya nilai-nilai merupakan hasil ciptaaan yang –tahu( subjek yang mengetahui). Hanya saja kaum idealis , memandang nilai sebagai satuan-satuan yang merupakan kenyatan satuan-satuan yang sejk semula sudah terkandung dalam susunan kenyataan itu sendiri.
Nilai sebagai esensi.
Apakah nilai di cari untuk di temukan karena sifat intrinsic yang melekat padanya ,atau apakah hal-hal tertentu menjadi nilai karena kita menginginkannya sebagai nilai-nilai ? jika nilai merupakan nilai karena kita yang menciptakannya , maka tentu kita akan dapat membuat baik menjadi buruk daan buruk menjadi baik. Yang demikian ini kiranya bertentangan dengan kenyataan; dengan cara yang bagaimanapun kita ingin membuat buruk menjadi baik , ia tetap buruk juga dan demikian pula sebaliknya. Dalam sejumlah peristiwa tertentu kita mungkin memberikan tanggapan secara tidak tepat , namun ada suatu sifat tetap yang melekat pada yang baik atau pada yang –bernilai yang tidak dapat di sangkal .sesungguhnya nilai-nilai ada ada kenyataan , namun tidaklah bereksistensi . berhubung dengan itu nilai-nilai tersebut haruslah merupakan esensi-esensi , yang terkandung dalam barang sesuatu serta perbuatan- perbuatan .sebagai esensi, nilai tidak bereksisstensi , nanun ada dalam kenyataan . nilai-nilai dapat di katakan mendasari barang sesuatu dan bersifat tetap. Jika orang mengatakan “perdamaian merupakan sesuatu yang bernilai”. Maka ia memahami bahwa didalam hakekat perdamaian itu terdapat nilai yang mendasarinya .
Esensi bukan merupakan kualitas.
Esensi tidak dapat di tangkap secara inderawi . ini berarti , memahami nilai tidak dapat dilakukan sebaimana kita memahami warna.sesungguhnyya nilai-nilai di pahami secara langsung melalui apa yang di namakan ‘indera nilai’.penetahuan mengenai nilai berfifat a proiri , dalam pengertian , tidak tergantung pada pengalaman dalam arti kata yang biasa. Nilai-nilai diketahui secara langsung , baik orang dapat/tidak dapat menangkapnya.menurut Hartman, nilai bukanlah merupakan kualitas , melainkan merupakan esensi
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar