Senin, 23 Juli 2012

alhamdulillah akhirnya samapai juga di bulan ramadhan tahun ini, semoga coban, ujian dan laiya bisa hamba lewati dega peuh keikhlasan dan terus belajar dari pengalaman.

Rabu, 11 Juli 2012

dijual jersey persib original 10/11

bismillah.. mau dagang jersey bola persib original nih. tp maaf sebelumnya ane lewat blogg dan dilepas karena ga kepake(cuman buat pajangan) maaf sebelumnya lewat kaskus belum mudeng. insyallah amanah dan barang pasti nyampe! fs : persib 10/11 kondisi: BNWT (brand new with tag) size : XL. limited edition bertanda tangan: gonzales, matsunaga, airlangga, miljan radovic, markus. mau ane lepas rp: 350rb gan (bole digoyang). dijamin barang original 100%. kalo minat langsung aja sms ke 087732164336 atau pin bb 29FFFF20. posisi ane di puncak, cianjur. dan semarang. detailnya silahkan liat pic.

Rabu, 04 April 2012

aku, sepakbola, dan PERSIB!

Rabu, 14 maret 2012
Hari ini tepat saat hari jadi ke 79 PERSIB BANDUNG. Persib? sebuah nama berjuta cerita dan menjadi bagian dari hidup dari seorang anak berdarah aceh dan jawa. Ya itu aku, seorang anak yang dulu sangat bermimpi menjadi bagian dari persib, namun harapan menjadi pemain itu sirnah seketika karena kurangnya pengetahuan dan cara menggapainya. Awal kisah, Saat itu aku baru saja mendarat dari sebuah pertualangan keluarga dari ayah yg menggabdi pada pemerintah dan saat aku mengginjak kelas empat sekolah dasar. Cianjur, itulah kota singgahan kami sekeluarga saat itu. Dengan dorongan teman baruku untuk bermain sepakbola menjadi hal baru bagi saya. Olah raga rakyat itu seperti langsung mengalir dalam darah seperti air yang mengalir ke dataran rendah. Entah mengapa, melihat kebelakang keluargaku tak satupun gemar menonton bola. Dan saat itu dunia baru pun dimulai, banyak hal yang dapat di ambil dalam sepak bola bagaimana caraku bisa memahami perbedaan, kesolidan, hingga kepercayaan. Terimaksih tuhan enggkau telah mengenalkan hambamu ini pada sepakbola, berbicara sepakbola tentunya ada panutan yang harus diambil. Suatu ketika saat aku melihat televisi seakan panutan itu menjadi bagian baru dalam hidupku. Rasa itu muncul saat melihatnya melebihi rasa mendapatkan ponten 100 di sekolah. PERSIB!!! Itulah rasa yang menjadi bagian baru dalam hidupku. Berita demi berita hingga pertandingan demi pertandingan serasa sanggat rugi untuk melewatkanya. Seiring bertabahnya usia keingginan untuk melihat persib bertanding di stadion seakan makin menggebu. Tapi apalah daya saat smp kala itu aku secara financial tidak memungkinkan untuk berangkat langsung ke stadion. Jangankan ke stadion berkeliaran dimalam hari saja rasanya sangat tidak mungkin ini semua akibat aturan yg di tetapkan oleh kedua orang tua, terkecuali malam minggu itupun dibatasi. Akhirnya saat yang dinanti pun tiba, saat yang selalu di tunggu di masa SMA seiring pertumbuhan umur dan financial keluarga harapan itu seperti tinggal melaksakanya, dengan ijin orang tua saat itu kelas dua SMA dan modal tiga ratus ribu rupiah plus tanggungan seorang teman yang diajak berangkatlah kaki berdua. Pada hari itu PERSIB berhaapan dengan dengan Persela lamongan, tapi rencana itu tidak semudah yang dipikirkan rintangan pertama kami yaitu ketidak tahuan bagaiman cara bisa tiba di stadion siliwangi yang saat itu menjadi kandang PERSIB BANDUNG. Seperti anak kecil yang baru belajar dengan menghilangkan rasa malu kami memberanikan diri untuk bertanya sana ini, banyak jawaban, banyak tanggapan, banyak cerita  seperti pribahasa mengatakan MAN JADDA WAJADA (siapa yang bersungguh-sungguh maka akan berhasil) kami berdua pun tiba di tempat yang dituju, Stadion siliwangi tempat berkumpul BOBOTOH untuk tim kebanggaanya saat berlaga. Tak ada rasa yang membahagiakan melainkan rasa bahagia capur haru apalagi saat salah seorang bertanya dalam bahasa sunda “kang dari cianjur?? Edannn” berarti mas dari cianjur? Gilaaa (mungki kaget melihat aku aku dan seorang teman yang bertubuh kecil lebih condong masih terlihat seperti anak SMP  dan rasa bahagia itu lengkap karena kemenangan PERSIB 5-2 atas lawanya. Seperti semuanya lengkap sudah dengan oleh –oleh yang dibawa kerumah. Begitulah sebagian kisahku untuk menjadi bagian dari persib, kini persib sudah berusia 79 tahun tepat saat aku berumur 19thn. Ini tulisan pertamaku, ironis memang dengan umur 19thn dan tulisan pertama untuk kisah hidupnya, ya itulah aku MUHAMMAD ASSASUL MUTTAQIN seorang anak yang selalu ingin menjadi bagian dari PERSIB . Tapi disisilain aku merasa bangga karena tulisan memoar ku UNTUK PERSIB BANDUNG!!! kini ada harapan lain yang aku targetkan untuk menjadi bagian dari persib, aku bisa membuat karya untuk persib dan suatu saat nanti semoga bisa berkerja untuk persib. Sekarang terihat memang tidak mungkin tapi semangat dari kata MAN JADDA WA JADDA menjadi motivasi lain bagiku. SELAMAT ULANG TAHUN PERSIB!! SEMOGA AKU, KAMU, BOBOTOH, PENGURUS DAN PEMAIN YANG PERNAH MEMBELAMU SELALU MENJADI BAGIAN YANG TAK TERPISAHKAN. RAIHLAH PRETASIMU SETINGGI LANGUT KE TUJUH, TERUSLAH BENTANGKAN SAYAP MU. BAWA KEMBALI TROPHY KEBANGGAAN ITU KEMBALI KEBANDUNG. SEKALI LAGI SELAMAT ULANG TAHUN
BAAAAGIIMUUU PERSIB JIWAAA RAGAAAA KAAAAMII

Selasa, 24 Januari 2012

situasi kelompok sosial

SITUASI KELOMPOK SOSIAL
I. pendahuluan
Sejak individu itu dilahirkan di dunia ini ia selalu dilingkupi oleh benda-benda. Kemudian terjadi interaksi dengan individu-individu yang lain di dalam kelompok, sehingga dapat membentuk individu menjadi Sejak individu dilahirkan di dunia ini ia selalu dilingkupi oleh benda-benda. Kemudian person dan mengubah sifat-sifat aslinya menjadi sifat-sifat kemanusiaan. Baik suku-suku yang masih sederhana maupun orang-orang modern yang hidup di kota besar selalu berinteraksi dalam kelompok sosialnya
Melalui kelompok itulah individu dapat memuaskan keseluruhan kebutuhan yang fundamental dan memperoleh kesempurnaan yang bebas. Tapi sebaliknya melalui kelompok itu pula dia dapat merasakan kekecewaan dan mengalami kesulitan-kesulitan yang amat sangat. Misalnya dengan adanya upacara-upacara. Keller misalnya menggambarkan upacara inisiatif laki-laki dan wanita diantara beberapa suku bangsa di Australia secara detail. Pada waktu umur 12 tahun mereka di beri tes-tes keberanian, tubuhnya dilukis dengan jarum dilempar ke laut dan sebagainya. Manusia tidak mungkin hidp tanpa kelompok, justru kelompok sosiallah yang menjadikan manusia dapat tumbuh dan berkembang sebagaimana wajarnya.

II. Rumusan Masalah

1. Jenis-jenis Kelompok Sosial
2. Ciri-ciri kelompok sosial
3. Norma kelompok dan norma sosial

III. Pembahasan

1. Jenis-jenis kelompok sosial

Situasi yang dihadapi individu, terbagi menjadi dua macam.

1. Situasi kebersamaan

Situasi kebersamaan artinya suatu situasi berkumpulnya sekumpulan individu secara bersama-sama.
Situasi kebersamaan menimbulkan kelompok kebersamaan, yaitu suatu kelompok individu yqang berkumpul pada suatu ruang dan waktu yang sama tumbuh dan mengarahkan tingkah laku secara sepontan. Kelompok ini disebut juga dengan massa atau crowd
Menurut Kinch, ciri-ciri masa adalah
a. Bertanggung jawab dalam waktu yang relatif pendek
b. Para pesertanya berhubungan secara fisik (misalnya, berdesak-desakan)
c. Kurang adanya aturan yang terorganisir
d. Interaksinya bersifat spontan.





2. Situasi kelompok Sosial

Situasi kelompok sosial artinya, suatu situasi ketika terdapat dua individu atau lebih mengadakan interaksi sosial yang mendalam satu sama lain.
Situasi kelompok sosial tersebut menyebabkan terbentuknya kelompok sosial, artinya suatu kesatuan sosial yang terdiri atas dua atau lebih individu yang telah mengadakan interkasi sosial yang cukup intensif dan teratur sehingga diantara individu itu sudah terdapat pembagian tugas, struktur, dan norma-norma tertentu.
Secara umum, kelompok sosial tersebut diikat oleh beberapa faktor berikut.
a. Bagi anggota kelompok, suatu tujuan yang realistis, sederhana, dan memilii nilai keuntungan bagi pribadi.
b. Masalah kepemimpinan dalam kelompok cukup berperan dalam menentukan kekuatan ikatan antar anggota.
c. Interaksi dalam kelompok secara seimbang merupakan alat perekat yang baik dalam membina kesatuan dan persatuan anggota .

Jadi kelompok-kelompok sosial tersebut adalah himpunan atau kesatuan-kesatuan manusia yang hidup bersama, oleh karenanya adanya antar hubungan antar mereka.
Hubungan tersebut antara lain menyangkut hubungan timbal balik yang saling pengaruh mempengaruhi dan juga suatu kesadaran untuk saling tolong menolong, setra adanya suatu organisasi antar anggotanya. Timbul suatu pertanyaan, “Apakah setiap himpunan manusia dapat dinamakan kelompok sosial ?”
Untuk menampakan kelompok sosial diperlakukan beberapa persyaratan diantara lain:
1. Kesadaran berkelompok
Setiap anggota kelompok tersebut harus sadar bahwa dia merupakan sebagian dari kelomok yang bersangkutan.
2. Interaksi sosial
Ada hubungan timbal-balik antara anggota yang satu dengan anggota yang lainya.
3. Organisasi sosial
Terdapat sesuatu struktur organisasi dan suatu faktor, yang dimiliki bersama oleh anggota-anggota kelompok-kelompok itu, sehingga hubungan antara mereka bertambah erat. Faktor tadi merupakan nasib yang sama, dan lain-lain.
dari beberapa definisi itu cenderung kepada definisi yang dikemukakan oleh Sherif Sherif, yaitu:

kelompok adalah suatu unit sosial atau kesatuan sosial dapat hanya terdiri atas dua atau lebih individu y6ang telah mengadakan interaksi sosial yang cukup intensif dan teratur, sehingga diantara individu itu sudah terdapat pembagian tugas, struktur, dan norma-norma tertentu yang khas bagi kelompok itu.

Dari batasan ini dapat diketahui bahwa kelompok sosial dapat hanya terdiri atas dua orang individu saja, misalnya keluarga yang terdiri atas suami dan isteri.
Pasangan suami isteri merupakan bentuk kelompok sosial yang terkecil, sedangkan ada pula kelompok sosial yang anggotanya ratusan bahkan ribuan misalnya: Partai Politik. Jenis-jenis kelompok yang lain Kelompok Rukun Tetangga, Organisasi Kesenian, Sarjana, dan sebagainya .


2. CIRI-CIRI KELOMPOK SOSIAL

Menurut Sherif and Sherif, Kleompok sosial adalah suatu kesatuan sosial yang tediri atas dua individu atau lebih yang telah mengadakan interaksi sosial yang cukup intensif dan teratur, sehingga di antara invidu itu sidah terdapat pembagian tugas, struktur dan norma-norma tertentu, yang khas bagi kesatuan tersebut.
Dari rumusan ini nyata bahwa kelompok sosial yang terdiri dari dua kelompok individu saja seperti sepasang suami istri dapat dimasukan dalam rumusan “Kelompok sosial”. Pendapat lain mengatakan: kelompok sosial adalah hubungan dua orang atau lebih yang ada hubungan psikologis yang mencolok. Misalnya: orang yang duduk dalam bis tidak dapat disebt kelompok sosial sebab tidak ada hubungan psikologis.
Kelompok sosial dapat digolong-golongkan dalam bermacam-macam jenisnya. Charles H. Cooly memebedakan kelompok berdasarkan susunan dan organisasi, yaitu primary group (kelompok premier) dan secondary-group (kelompok sekunder).

Ciri-ciri kelompok Primer
1) Dalam kelompok primer terdapat interaksi sosial yang lebih erat diantara aggota-anggotanya. Dalam kelompok itu ada hubungan face to face antara anggota-anggotanya, yaitu hubungan yang benar-benar kenal satu sama lain. Maka kelompok premier ini disebut: face-to-face group.
2) Sering hubungganya bersifat irrasional dan tidak didasarkan atas pamrih. Di dalam kelompok primer manusia selalu mengembangan sifat-sifat sosialnya seperti menggindahkan norma-norma, melepaskan kepentinggan sendiri demi kepentingan kelompok dan sebagainya

Ciri-ciri kelompok sekunder
1) Kelompok terbentuk atas dasar kesadaran dan kemauan dari para anggotanya. Interaksi dalam kelompok sekunder terdiri atas saling hubungan yang tidak langsung berjauhan atas formal, kurang bersifat kekeluargaan. Hubungan-hubuungan tersebut biasanya lebih objektif.
2) Peranan atau fungsi kelompok sekunder dalam kehidupan manusia adalah untuk mencapai salah satu tujuan tertentu dalam masyarakatdengan bersama, secara objek dan rasional, misalnya: organisasi partai politik, perhimpunan, serikat kerja, dan sebagainya.

Di samping kelompok primer dan sekunder, juga ada kelompok yang berbeda dengan kelompok primer dan sekunder. Oleh Kimball young (seorang ahli ilmu jiwa sosial ) kelompok ini disebut : “massa society”. Kebanyakan kelompok yang disebut ini berasal dari kelompok sekunder yang mengalami perkembangan lebih hebat.
Adapun ciri-cirinya:


1. Rasional, hubungan satu sama lain berdasar perhitungan untung rugi. Akibatnya hubungan itu menjadi Impersonal, jadi alat pemuas kebuthan saja.
2. Adanya spesialisasi peranan yang sangat ekstrem, misalnya dokter tidak boleh mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang lain.
3. Timbul perasaan kurang tentram dan kurang erat hubungan antara anggota-anggotanya. Manusia setiap saat seolah-olah merasa diancam oleh manusia lain, dan ancaman ini dirumuskan makin lama makin hebat, akibatnya juga kurang tentram. Oleh karena itu jiwa manusia dalam massa society selalu tegang takut dan tidak mendapatkan kepuasan hidup.
Terdapat pula pembagian kelompok sosial kedalam informal group ( kelompok tidak resmi ) dan formal group (kelompok resmi). Atau kelompok informal dan kelompok formal.
a. Kelompok tidak resmi (informal)
Ciri-cirinya
- Tidak mempunyai anggaran dasar dan anggaran rumah tangga tertulis.
- Mempunyai pedoman-pedoman tingkah laku anggota-anggotanya, tetapi tidak dirumuskan secara tegas dan tertulis
- Bersifat tidak kekeluargaan. Bercorak pertimbangan-pertimbangan rasional dan obyektif.
b. Kelompok Resmi (formal)
Ciri-cirinya:
- Mempunyai anggaran dasar dan anggaran rumag tangga tertulis.
- Mempunyai pedoman-pedoman tingkah laku yang dirumuskan secara tegas dan tertulis
- Bersifat tidak kekeluargaan, bercorak pertimbangan-pertimbangan rasional dan obyektif.
Selanjutnya dalam anggota suatu kelompok sering terdapat perasaan ikatan, dan perasaan dalam kelompok atau in-group. Sebaliknya terhadap orang luar terdapat perasaan yang disebut perasaan luat kelompok atau out group.
Perasaan in-group disertai perasaan persaudaraan, dan anggota kelompok sendiri dipandang sebagai “asing”, “orang lain” dan sebagainya. Dan perasaan out-group biasanya lebih dingin, bahkan kadang-kadang disertai perasaan permusuhan.
Dalam suatu kelompok biasanya terdapat kecendrungan untuk menganggap segala yang termasuk di dalamnya lingkungan kelompok sendiri sebagai utama, nail, riil, logis, sesuai dengan kkodrat alam dan sebagainya. Sedangkan segala yang berbeda dan tidak termasuk kelompok sendiri, dipandang kurang baik, ajaib, tidak susiala, bertentangan dengan kehendak alam dan sebagainya .


3. NORMA KELOMPOK DAN NORMA SOSIAL

Kelompok terbentuk karena adanya komunikasi, terjadinya kelompok karena individu berkomunikasi dengan yang lain sama-sama memiliki motif dan tujuan. Dua orang atau lebih yang bekerja sama dalam suatu hubungan fungsional satu sama lain inilah yang akan membentuk suatu kelompok. Anggota kelompok mungkin tidak pernah bertemu, mereka berhubungan melalui korespondensi atau perantara yang lain. Kelompok mungkin terbentuk secara kebetulan atau secara tiba-tiba. Suatu kelompok yang telah terbentuk cenderung untuk memiliki ciri-ciri tertentu. Mereka akan mengembangkan suatu struktur yang mengatur hubungan dan kedudukan masing-masing anggota di dalam kelompok.
Di dalam berbagai kelompok orang mengadakan beragai perana sosial sesuai dengan corak kelompok masing-masing. Di dalam kelompok manusia seperti sekarang ini orang bebas memasuki kelompok sesuai dengan kebutuhan baik mengenai kesukuannya, pendapatnya atau keyakinannya. Ada kelompok yang mendasarkan akan agama, keturunan, hobby, pandangan hidup, tempat tinggal dan pekerjaan. Masing masing kelompok memeliki norma sosial yang berbeda. Oleh karen itu dalam hal multiple group membership kadang-kadang orang harus mengadakan penyesuaian norma antara kelompok yang satu dengan yang lain. Perbedaan norma di sini kadang-kadang hanya skedar perbedaan saja, tetapi suatu ketika dapat bertentangan. Orang harus menyesuaikan diri sesuai dengan kedudukanya dalam masing-masing keanggotaan kelompok.
Norma kelompok adalah norma-norma tingkah laku yang khas antara anggota-anggota kelompok. Namun ini bukan berarti norma rata-rata mengenai tingkah laku yang sebenarnya terjadi dalam kelompok itu, melainkan merupakan pedoman-pedomanuntuk tingkah laku individu. Jadi norma-norma kelompok itu berkenaan dengan cara-cara tingkah laku yang diharapkan dari semua anggota kelompok dalam keadaan yang berhubungan dengan kehidupan dan tujuan interaksi kelompok. Pengertian norma di sini digunakan dalam arti norma ideal, norma tentang bagaimana keadaan selanjutnya. Dalam pada itu norma kelompok memberi pedoman mengenai tingkah laku mana dan sampai batas mana masih diterima oleh kelompok dan tingkah laku anggota yang mana tidak diperbolehkan lagi oleh kelompok. Misalnya kelompk dapat memiliki norma-norma mengenai batas-batas tingkah laku yang solider terhadap anggota kelompok dan mengenai batas-batas tingkah laku yang tidak solider.
Dalam kelompok resmi norma-norma tingkah laku ini biasanya sudah tercantum dalam anggran rumah tangga atau dalam anggaran dasarnya. Bahkan norma-norma tingkah laku anggota suatu negara telah tetulis dalam undang-undang atau buku hukum pidana atau buku hukum lainya. Apabila dalam suatu kelompok terdapat penghargaan-penghargaan dan hukum-hukum tertentu atas bermacam-macam tingkah laku, maka sudah dapat diambil kesimpulan, bahwa dalam kelompok itu terdapat norma-normanya, walaupn kadang-kadang norma tersebut tidak secara tertulis.
Norma kelompo dan norma sosial tidak akan timbul dengan sendirinya, melainkan terjadi dalam interaksi sosial antara individu dalam kelompok sosial. Norma sosial senantiasa terjadi bersama dengan adanya interaksi manusia dalam kelompok, dengan kata lain: norma sosial adaah hasi daripada interaksi sosial antara anggota suatu kelompok.
Norma sosial merupakan pengertian yang meliputi bermacam-macam hasil interaksi kelompok, baik hasil interkasi daripada kelompok-kelompok telah lampau, maupun hasil interkasi kelompok yang sedang berlangsung. Termasuk padanya semua nilai-nilai harga sosial-sosial, ada istiadat, konvensi dan sebagainya.
Norma sosial adalah patokan-patokan umum mengenai tingkah laku maupun sikap individu anggota kelompok yang dikehendaki oleh kelompok mengenai bermacam-macam hal yang berhubungan dengan kehidupan kelompok yang melahirkan norma-norma itu. Dalam pada itu tidak semua kelompok mempunya norma-norma tingkah laku dan sikap-sikap mengenai situasi yang dihadapi oleh anggota-anggota kelompok itu dalam interaksinya.

Adapun macam-macam norma sosial tersebut:
1. Norma Kelaziman (volkways)
yaitu norma-norma yang dikutip tanpa berpikir panjang melainkan hanyalah berdasarkan atas tradisi/kebiasaan.
2. Norma Kesusilaan
Kesusilaan itu biasanya dihubungkan dengan keyakinan keagamaan. Barang siapa yang melanggar kesusilaan biasanya tidak ada hukumanya
3. Norma Hukum, ada 2 macam
Yang tertulis misalnya: hukum pidana, hukum perdata dan lain-lain.
Yang tidak tertulis misalnya: hukum adat.
Orang yang melanggar akan mendapat sangsi/hukuman.
4. Mode (Fashion)
Perbuatan ini biasanya dilakukan dengan tiru-tiru atau isenk-isenk saja.

Norma inilah yang mengikat kesatuan kelompok tiap-yiap anggota dalam kelompok mengakui, memakai, mentaati in group didasari adanya perasaan pengakuan satu norma yang sama
Di masing-masing kelompok, norma sosial dapat bersifat:
1. Tertulis, yaitu dalam bentuk peraturan-peraturan tertulis, diatur secara tertulis sanksi atas pelanggaranya.
2. Tidak tertulis, berupa kebiasaan-kebiasaan, tradisi dan adat istiadat yang semuanya tidak tertulis.

Pelanggaran terhadap norma yang tetulis dikenai sanksi yang sudah diatur pada peraturan-peraturan tertulis.
Pelanggaran terhadap norma yang tidak dan tetulis memang tidak diatur secara tertulis, tetapi tetap memiliki sanksi juga, kebanyakan bersifat tekanan psikis misalnhya dikeluarkan dari keanggotaan kelompok, diasingkan, disindir, dan tekanan-tekanan yang lain .
Konseptentang nilai telah dibicarakan dan bagaimana nilai itu membentuk prilaku telah pula di ungkapkan. Secara sederhana, norma-norma yang merupakan pedoman atau patokan prilaku itu sebenarnya bersumber dari nilai-nilai, oleh karena pedoman-pedoman prihal prilaku itu didasarkan pada konsepsi-konsepsi yang abstrak tentang apa yang baik dan apa yang buruk apa yang seharusnya dan apa yang buruk .



IV. Kesimpulan

Situasi kelompok sosial tersebut menyebabkan terbentuknya kelompok sosial, artinya suatu kesatuan sosial yang terdiri atas dua atau lebih individu yang telah mengadakan interkasi sosial yang cukup intensif dan teratur sehingga diantara individu itu sudah terdapat pembagian tugas, struktur, dan norma-norma tertentu.
Dari rumusan ini nyata bahwa kelompok sosial yang terdiri dari dua kelompok individu saja seperti sepasang suami istri dapat dimasukan dalam rumusan “Kelompok sosial”. Pendapat lain mengatakan: kelompok sosial adalah hubungan dua orang atau lebih yang ada hubungan psikologis yang mencolok. Misalnya: orang yang duduk dalam bis tidak dapat disebt kelompok sosial sebab tidak ada hubungan psikologis.
Kelompok terbentuk karena adanya komunikasi, terjadinya kelompok karena individu berkomunikasi dengan yang lain sama-sama memiliki motif dan tujuan. Dua orang atau lebih yang bekerja sama dalam suatu hubungan fungsional satu sama lain inilah yang akan membentuk suatu kelompok. Anggota kelompok mungkin tidak pernah bertemu, mereka berhubungan melalui korespondensi atau perantara yang lain. Kelompok mungkin terbentuk secara kebetulan atau secara tiba-tiba. Suatu kelompok yang telah terbentuk cenderung untuk memiliki ciri-ciri tertentu. Mereka akan mengembangkan suatu struktur yang mengatur hubungan dan kedudukan masing-masing anggota di dalam kelompok.

tanda-tanda orang munafik

Tanda-Tanda Orang Munafik

I. PENDAHULUAN
Orang yang dalam hatinya ada keimanan dan ketakwaan dan telah bersaksi akan kebenaran ajaran islam tetapi tidak mengamalkanya disebut fasiq. Sebaliknya orang yag secara lahiriah ketaatan dengan mengaku beriman secara lisan dan mengamalkan ibadah, tetapi dalam hati dia mengingkari semua itu, dia disebut munafik.
Kemunafikan adalah salah satu penyakit psikis dan potensi buruk yang dapat menyebabkan lahirnya beberapa penyimpangan moral, termasuk diantaranya dua prilaku diatas. Sifat ini juga memiliki tingkat-tingkat dan drajat-drajatnya yang bermacam-macam. Insyallah saya akan berusaha membahasnya semampu saya, dengan menyebutkan tingkatan-tingkatanya.


II. PERMASALAHAN

A. Pengertian munafik
B. Ciri-ciri orang munafik
C. Munafik sempurna

III. PEMBAHASAN

A. Pengertian munafik

Munafik atau minafik (kata beda), plural memungkinkan adalah mereka yang berpura-pura mengakui ajaran agama, namun sebenarnya tidak mengakuinya dalam hati. Munafik secara terminologi dalam Al-Qur’an merujuk pada mereka yang tidak beriman tetapi berpura-pura beriman.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُواْ إِلَى الصَّلاَةِ قَامُواْ كُسَالَى يُرَآؤُونَ النَّاسَ وَلاَ يَذْكُرُونَ اللّهَ إِلاَّ قَلِيلاً
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah, maka Allah membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa`: 142 )

B. Ciri-ciri orang munafik
Ciri-ciri orang munafik sangat banyak tersebut di dalam Al-Qur`an, dan Rasul SAW juga menyebutkan sebagian di antaranya guna memperingatkan umatnya dari ciri-ciri tersebut, jangan sampai mereka terjatuh ke dalamnya sehingga mereka akhirnya menjadi mirip seperti mereka. Padahal sungguh Nabi shallallahu alaihi wasallam telah menyatakan bahwa barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari kaum tersebut .
Ciri orang munafik, yaitu apabila berbicara berdusta, apabila berjanji ingkar, da apabila dipercaya berkhianat. Apabila paa seseorang terdapat salah satu sifat-sifat tersebut, berarti ia termasuk orang munafik. Pengertian munafik adalah menampakan seesuatu yang berlainan dengan isi hati .



Artinya:
Hadist ‘Abdullah bin ‘Amr bahwasanya Nabi SAW, bersabda: “empat sifat yang barangsiapa mengerjakanya maka ia menjadi orang yang benar-benar munafik, dan barangsiapa yang melakukan satu dari keempat sifat itu maka di dalam dirinya terdapat sebagian sifat nifaq sehingga ia meninggalkanya, (yaitu) : apabila dipercaya, ia berkhianat, apabila berbicara, ia berdusta, apabila berjanji, ia tidak menepati; dan apabila bertengkar, ia curang”.
Al Bukhari mentahrijkan hadist ini dalam “kitab iman” bab tentang orang munafik .
Keempat yang disebutkan dalam hadist diatas adalah
1. Menghianati amanat
Amanat maksudnya menitip kepercayaan kepada seseorang. Kedalamannya termasuk amanat harta benda, nama baik, rahasia, jabatan, amanah-amanah lainya yang bersifat materi. Bahkan dalam cakupan yang lebih luas lagi adalah amanah dari Allah SWT dan rasulnya. Semua amanah itu harus dijaga, dipelihara dan dilaksanaka sebagaimana mestinya.
Disamping pelanggaran (penghianatan) amanah terhadap semua manusia sudah cukup banyak, penghianatan terhadap Allah SWT dan rasulnya lebih menonjol lagi. Sekiranya kita mau mengakui jujur, maka penghianatan kita teradap Allah SWT dan rasulnya lebih banyak bila dibandingkan dengan amanah yang sudah kita jalankan. Namun, sudah menjadi sifat manusia tidak mau besifat satria untuk mengakui kekurangan dan keebihanya terhadap Allah SWT, lebih-lebih lagi terhadap sesama manusia.
2. Berbicara dusta (bohong)
Berbicara dusta, sama dengan mengada-ada yang tidak ada. Apabila ada orang yang sudah telanjur percaya terhadap berita yang disampaikanya itu maka sebenarnya pendengaranya telah terkecoh dan tersesat. Sekiranya berita it merupakan janji, maka janji itu janji bohong. Sekiranya berita itu benar fakta maka fakta yang dinantikan itu juga fakta bohong.
Berita bohong disamping merugikan orang banyak juga merugikan diri sendiri, orang yang menyampaikan berita itu. Apabila kebohongan seseorang telah diketahui maka seumur hidupnya tidak akan dipercaya lagi kedepanya, lebih rugi agi adalah di akhirat kelak dia akan mendapat siksa dari Allah SWT.
3. Tidak menepati janji.
Tidak sedikit orang berjanji dalam berbagai hal, tetapi ada saja orang yang tidak menepati janjinya, janji enteng dan tidak membawa resiko apa-apa. Padaa orang yang menunggu janji, jiwanya merasa tersakiti dan gelisah. Orang yang berjanji memberikan suatu harapan dan bila yang diharapkan itu tidak terbukti, maka rasa kecewa yang didapat. Sedangkan orang yang sengaja mengecewakan orang lain, dilarang oleh agama islam. Dusta menyalai janji adalah dua bersaudara yang dapat menggelisahkan orang dan megacaukan masyarakat luas.
4. Tidak mau menerima kebenaran
Salah satu ciri orang munafik adalah tidak mau menerima kebenaran dari orang yang menjadi temannya diskusi atau lawanya berdebat. Hal ini berarti dia tidak mau menerima kebenaran dari orang lain. Dia selalu merasa dirinya dan orang lain salah, dia menginginkan pendapatnya selalu di dengar, tetapi tidak mau mendengar pendapat orang lain.
Apabila suatu saat orang yang seperti memegang kekuasaan, maka kemungkinan dia akan menjadi seorang dictator .









C. Munafik sempurna


Munafik sempurna adalah apabia seseorang melakukan tiga hal yang tadi disebutkan di atas yaitu :
1. Jika berbicara dia berdusta
2. Jika berjanji dia selalu mengingkari
3. Jika diberi amanat dia berkhianat
Apabila seseorang sudah memenuhi tiga kriteria diatas maka orang itu adalah orang yang benar-benar munafik sempurna.
Dari hadist Abdullah bin Umar ada dua pembagian yang bisa diambil pelajaran yaitu benar-benar munafik (munafik semurna) dan sifat munafik sempurna yang ada pada diri seseorang. Munafik tidak diategorikan islam, bukan islam bukan juga kafir tetapi sebagai munafik. Dalam surat At-Taubah ayat 63 – 68 Allah SWT menceritakan tentang orang-orang munafik pada masa rosul sehingga Allah SWT memerintahkan kepada rasul jangan mendoakan ampunan kepada mereka (tidak akan diterima kalau rasul memohon 70 kali) dan demikian ancaman keras neraka jahanam yang kekal bagi orang-orang munafik. Orang-orang munafik selalu menerima dan memberi dengan ketidak tulusan mereka jauh dari sifat rendah hati. Mereka selalu ingin dipuji disertai sifat iri hati semisal ada yang menyamai dan melebihi mereka.
Orang-orang munafik suka melanggar kebenaran dalam hatinya dan bahkan suka mengolok-oloknya, lebih suka bersenang-senang daripada melakukan hal yang bermanfaat, suka menghina orang yang suka berbuat baik dan menghasut orang untuk menghindari perbuatan-perbuatan baik, dan tentunya lebih menyukai dunia daripada akhirat. Allah SWT telah menggambarkan kaum munafik lebih dari satu surah, salah satunya adalah : “Dan diantara manusia ada yang mengatakan, kami telah beriman kepada Allah SWT dan hari akhir”, padahal sebetulnya mereka bukan orang-orang yang beriman, dan mereka hanya menipu dirinya sendiri. Sedangkan mereka tidak menyadari, dalam hati mereka terdapat penyakit, lalu Allah SWT memperhebat penyakit itu, dan mereka memberi siksaan yang pedih karena mereka mendustakan kebenaran .

IV. KESIMPULAN

Dari pembahasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa tanda munafik itu ada tiga yaitu, bila berbicara ia berdusta, bila berjanji ia menggingkari janji, dan jika diamati dia khianati. Pengertian munafik itu sendiri adalah mereka yang berpura-pura menggikuti ajaran agama namun sebenarnya tidak mengakuinya dalam hati. Macam-macam orang munafik ada dua macam : munafik sempurna dan sifat atau perangai munafik yag ada pada diri seseorang.

Senin, 02 Januari 2012

FILSAFAT: Aksiologi Masalah Nilai


AKSIOLOGI MASALAH NILAI

I. PENDAHULUAN

Apakah yang baik itu ?
Berabad-abad yang lampau, suatu ketika Socrates menyusuri jalan-jalan di kota Athena seraya mengucapkan kata-kata yang ini termasyhur ,”kenalilah diri sendiri”.dan berabad-abad sesudah masa hidupnya , seorang penyair terkenal Alexander pope mengatakan, “penyelidikan mengenai umat manusia dalam arti kata yang sebenarnya hendaknya ditujukan kepada manusianya sendiri.” Namun andapun tentu sependapat bahwa seandainyakita dapat menyetujui kedua contoh tersebut , liku-liku masalahnya belum terjawab sepenuhnya baik oleh ajaran Socrates maupun oleh ajaran penyair Alexander Pope di atas.
Sesungguhnya masalah pengenalan diri sendiri meluas dan merembes kesegenap masalah lain yang telah kita pelajari. Mengenal diri sendiri secara memadai berarti mengenal dunia tempat kita hidup.
Makna yang di kandung oleh ‘nilai’ dan ‘yang –baik’
sejumlah penggunaan istilah ‘baik’
Perhatikan istilah baik dalam pernyataan-pernyataan dibawah ini:
“pembelian ini baik”
“ia orang baik”
“ini pisau baik”
“kiranya baik menjadi orang sehat”
Hendaknya di catat bahwa kalimat yang terakhir dapat kita ubah bentuknya menjadi “kesehatan merupakan sesuatu yang baik”. Tetapi kalimat-kalimat yang lain tidak dapat kita ubah secara demikian .Misalnya jika saya mengatakan “ ini pisau baik”,sudah pasti yang saya maksudkan berbeda dengan apabila saya mengatakan “ pisau merupakan sesuatu yang baik”, dalam hal ini , kesehatan dalam dirinya sudah mengandur unsure kebaikan ,sedangkan pisau dikatakan baik karena dapat menjadi alat untuk melakukan sesuatu.

II. PEMBAHASAN

Masalah ‘Baik’ dan masalah ‘ nilai’
Kata ‘baik’di pakai dalam arti yang berbeda-beda di dalam pernyataan atas .masalahnya akan bercampur aduk jika perbagai istilah ‘baik’ tersebut di beri makna yang setara.,terkecuali jik kita dapat menunjukkan bahwa memang terdapat inti makna yang sama yang terdapat dalam segenap penggunaan tadi. seseorang baru saja membeli kursi dan seorang temanya ,seelah mendengar berapa pembayaran untuk itu kemudian , mengatakan : “suatu pembelian yang baik”, yang dimaksudkan teman yang tadi adalah bahwa uang yang dibayarkan untuk membeli kursi tersebut sesungguhnya lebih rendah dibandingkan dengan nilai kursi yang sebenarnya .dengan kata lain “ pembelian yang baik”merupakan pembelian yang di dalam nilai uang yang dibayarkan lebih rendah dibandingkan dengan nilai barang yang di beli.nampak disini ada suatu hubungan tertentu antara pengertian ‘baik’ dengan pengertian ‘nilai’.
Nilai kesusilaan.
Dalam kalimat “ia orang baik” mengandung dua makna.pertama,pernyataan yang katakanlah ,dibuat oleh seorang majikan mengenai karyawannya yang baik dalam pekerjaannya dan kedua seseorang yang cara hidupnya dapat dipakai sebagai teladan.dalam hal yang pertama ,agaknya makna yang dikandung ialah, orang yang bersangkutan bersifat efisien dn berharga untuk menjalankan pekerjaannya. Dalam hal yang kedua agaknya ada nilai yang yang tersangkut yaitu kesusilaan.dalam hal ini , orang yang baik ialah orang yang mempunyai kehidupan yang bernilai di tinjau dari sudut pandang kesusilaan.Artinya kehidupan orang tersebut patut dihargai di tinjau dari segi kesusilaannya
Filsafat nilai.
Aksiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakekat nilai, yang umumnya di tinjau dari sudut pandangan kefilsifatan.didunia ini terdapat banyak cabang yang khusus , seperti ekonomi, estetika(keindahan), etika(kebaikan), filsafat agama, dan epistemology(kebenaran).
Aksiologi juga menyelidikimacam pernyataan ini, sesungguhnya ‘nilai’ merupakan pengertian yang lebih luas lingkupnya dari ‘yang baik’ dan pengertian tersebut menyangkut perangkat hal yang di setujui dn yang tidak di setujui.
Yang –bernilai dan yang –di beri nilai
Dalam pernyataan “ kesehatan merupakan sesuatu yang baik”, dan mengubah bentuknya menjadi “kesehatan merupakan sesuatu yang bernilai”.dimisalkan setelah mendengarkan uapaan tersebut orang pesimis mengatakan “ omong ksong, kesehatan bukan merupakan sesuatu yang bernilai, karena sekadar memperpanjang kehidupan yang tidak bahagia”.pendapatnya member nilai negative atau menilai rendah kepada kesehatan dan kehidupan.dan orang optimis mengatakan “tidak, kesehatan merupakan sesuatu yang bernilai ,bukan karena saya menyukainya atau memberi nilai kepadanya, melainkan karena sudah mengandung nilai di dalamnya .contoh yang demikian ini menunjukkan adanya dua maacam hal:sesuatu yang sejak semula sudah bernilai dan sesuatu yang diberi nilai.
Nilai intrinsic dan nilai instrumental.
Untuk lebih jelasnya mengenai nilai intrinsic dan nilai instrumental kita terapkan pada objek tertentu, misalnya pisau. Apakah suatu pisau dikatakan baik karena mengandung kualitas-kualitas pengirisan di dalamnya?atau apakah merupakan pisau yang baik karena dapat saya gunakan untuk mengiris?ataukah akhirnya merupakan pisau yang baik karena hubungannya dengan saya , yaitu suatu saat kebetulan dapat saya gunakan untuk mengiris sesuatu? Dalam hal yang pertama rang berbicara mengenai nilai intrinsic. Dan yang kedua nilai instrumental. Perbedaan tersebut hendaknya jangan diambil terlebih dini untuk mendahului jawaban atas pernyataan apakah segenap nilai itu bersifat intrinsic, instrumental,bersifat keduanya , atau tidak bersifat keduanya.
Situasi-nilai
Salah satu masalah yang paling sulit didalam aksiologi ialah menentukan apakah didalam suatu situasi –nilai terdapat tiga atau empat factor. Masalah ini dapat didekati dari berbagai sudut. Kita dapat mempertanyakan : apakah perbuatan penilaian itu merupakan perbuatan akali yang khusus atau merupakan perbuatan pengenalan belaka? Dengan kata lain apakah kita mempunyai kemampuan melakkan penilaian yang khas tiada duanya atau apakah kita sekedar secara akali mengenal kualitas nilai suatu objek? Atau , dapat juga kita ajukan pertanyaan , apakah ditinjau dari sudut ontology nilai itu merupakan kenyataan ataukah bersifat pragmatis?dengan ungkapan yang lain , artinya ,apakah nilai di gunakan sbagai kata benda, kata kerja ataukah sebagai kedu-duanya.
Keharusan dan kenyataan.
Masalah keharusan dan kenyataan merakan masalah yang penting .ilmu pemgetahuan mengatakan bahwa dirinya bebas dari tanggaan-tanggapan penilaian , dan yang demikian ini secara mutlak terutama terdapat ilmu pengetahuan kealaman.
Jika orang mengatakan bahwa fisika terbebas dari tanggapan-tanggapan penilaian , ini berarti bahwa tidak ada seorangpun yang mengatakan fisika merupakan ‘keharusan’atau merupakan sesuatu yang factor-faktornya merupakan harapan , yang di sukai atau tidak sukai .suatu penilaian senantiasa menyangkut ‘ apa yang seharusnya ada/ terjadi’sedangkan fisika melukiskan ‘ apa yang senyatanya ada/ terjadi’.hendaknya kita memilahkan antara keharusan dan kenyataan . begitulah teori melukiskankenyaaan mengenai halnya, sedangkan tanggaapan-tanggapan penilaian setidak-tidaknya menyangkut apa yang seharusnya ada / terjadi.
Sejumlah makna ‘nilai’.
Perkataan ‘nilai’ mempunyai macam makna berikut ini:
1. Mengandung nilai (artinya, berguna)
2. Merupakan nilai (baik,atau benar, atau indah)
3. Mempunyai nilai(merupakan objek keinginan, mempunyai kualitas yang dapat menyebabkan orang mengambil sikap ‘menyetujui’, atau mempunyai niilai tertentu ).
4. Memberi nilai (menanggapi sesuatu sebagai hal yang di inginkan atau sebagai hal yang menggambarkan nilai tertentu).

1. Nilai Merupakan Kualitas Empiris yang Tidak Dapat Di Definisikan
KUALITAS MELUKISKAN SESUATU OBKEK. Kualitas ialah sesuatu yang dapat disebutkan dari suatu objek, dengan kata lain kualitas ialah suatu segi dari barang sesuatu yang merupakan bagian dari barang tersebut dan dapat membantu melukiskanya. Kualitas dapat dipakai sebagai suatu kata sifat, misalnya dapat dikatakan “pisang itu kuning.” Suatu kata sifat mengatakan sesuatu mengenai objek yang memperoleh penyifatan (kualifikasi). Dalam hal ini dikatakan bahwa suatu objek mempunyai sesuatu sifat.
KUALITAS-KUALITAS EMPIRIS. Kualitas empiris ialah kualitas yang diketahui atau dapat diketahui melalui pengalaman. Diandaikan anda tidak mengetahui apa yang dinamakan warna kuning jika didefinisikanya, dalam hal ini apakah yang terjadi? Kuning ialah suatu suatu cahaya dengan panjang gelombang, amplitudo, dan intensitas tertentu, kiranya boleh dipastikan anda tidak akan mengetahui apakah warna kuning itu.
Sebagai kualitas empiris, kuning tidak pernah berhenti didefinisikan. Begitu pula halnya dengan pengertian ‘baik’ – artinya pengertian nilai. Di dalam bukunya yang berjudul Principia Ethica, G. E. More mengatakan bahwa ‘baik’ merupakan pengertian-pengertian yang bersahaja.
SESAT-PIKIR NATURALISTIS (NATURALISTIC FALLACY). Segenap percobaan untuk mendefinisikan ‘nilai’ bedasarkan atas hal-hal yang lain (misalnya ‘rasa nikmat’ atau ‘kepentingan’) oleh moore dinamakan sesat pikir naturalistis. A. C. Ewing, dalam bukunya yang berjudul Definition of the Good, secara cermat telah membuat ikhtisar dan membahas secar mendalam usaha-usaha yang menggambarkan sesat-pikir naturalistis. Jika Moore dan Ewing mengatakan bahwa nilai tidak dapat didefinisikan, maka yang mereka maksudkan ialah nilai-nilai yang tidak dapat dipersamakan dengan pengertian-pengertian yang setara.
PEMAHAMAN ATAS KUALITAS-KUALITAS NILAI. Nilai merupakan satu kualitas objek atau perbuatan tertentu, maka objek perbuatas tersebut dapat didefinisikan bedasarkan atas nilai-nilai, tetapi tidak mungkin sebaliknya. Sebuah kualitas sebagai pengertian semesta (universal) tidak dapat dialami melalui alat-alat indrawi; hanya objek-objek yang memiliki kualitas tertentu dapat dialami secara inderawi.

Sebuah pengertian semesta hanya dapat dialami secara akali. Bahwa nilai merupakan kualitas empiris berarti kita dapat mengalami dan memahami
Secara langsung dan kualitas yang bersangkutan yang terdapat pada suatu objek tertentu. Dengan demikian suatu objek yang indah terlihat indah atau keindahan secara akali langsung dipahami sebagai kualitas suatu objek. Misalnya, orang mengatakan bahwa nilai terdapat pada rasa nikmat, kemudian ada yang bertanya “Apakah rasa nikmat itu baik?,” atau “Apakah baik jika orang memberikanrasa nikmat kepada orang lain?.” Jikia yang baik dapat dipulangkan kepada rasa nikmat, pertanyaan yang pertama tidak mengandung makna, atau setidaknya merupakan tautologi, dan kalimat yang terakhir harus dibaca.
VERIFIKASI MELALUI PENGALAMAN. Nilai dapat dijawab dengan jalan melakukan penyelidikan atau serta pelukisan secara empiris. Suatu tanggapan penilaian merupakan tanggapan empiris, dengan segala kesulitan serta kesalahan yang dapat melekat pada tanggapan-tanggapan empiris. Verifikasi terhadap tanggapan-tanggapan empiris yang lain, yang dengan jalan mengalami kualitas yang bersangkutan.
TOLAK UKUR KAJIAN TERHADAP NILAI. Kenyataan bahwa nilai tidak dapat didefinisikan tidak berarti nilai tidak bisa dipahami. Dimisalkan anda dan teman akrab anda tidak bersepakat mengenai nilai. Diandaikan anda berdua diperkenalkan kepada seorang gadis, dan salah seorang diantara anda berdua mengatakan “ia gadis cantik,” sedang yang seorang lagi mengatakan “ia gadis jelek.” Kiranya jelas nilai bahwa jika nilai bersifat subjektif, maka sesungguhnya dalam hal ini tidak terdapat ketidaksepakatan dalam arti kata yang sebenarnya, karena masing-masing diantara anda berdua mengatakan bagaimana gadis tersebut menampak pada anda masing-masing. Tapi yang perlu diingat, disini kita tengah menguji sudut pandang seseorang yang mengatakan bahwa nilai merupakan kualitas empiris.
Tolak ukur bagi masing-masing nilai yang khusus, merupakan bahan pembahasan bagi ajaran-ajaran mengenai nilai. Dengan demikian, maka tolak ukur bagi keindahan dibahas dalam estetika. Penyelesaian terhadap masalah nilai yang kini sedang kita bicarakan mempunyai daya tarik tertentu. Tetapi terhadapnya juga terdapat keberatan-keberatan yang diajukan. Meskipun kita sama-sama sepakat bahwa nilai merupakan kualitas tapi tetapsaja terdapat erbedaan yang hakiki.




2. Nilai Sebagai Objek Suatu Kepentingan

SETIAP NILAI MENYANGKUT SIKAP. Sering orang tidak sepakat menegenai nilai-nilai, kiranyasudah jelas. Ada pula yang mengatakan bahwa masalah nilai sesungguhnya merupakan masalah enggutamaan, dan ‘degustibus non est disputandum’ (mengenai masalah selera orang tidak perlu mempertentangkanya). Kiranya juga jelas juga jelas bahwa perasaan senantiasa berhubungan erat dengan tanggapan-tanggapan penilaian.
Jika seseorang memepertimbangkan tanggapan-tanggapan penilaian yang lain yang dibuatnya mengenai barang sesuatu atau suatu tindakan, maka pastilah akan dijumpai semacam “keadaan, perangkap, sikap atau kecendrungan untuk setuju atau menentang”. Dalam hal ini tersedia tiga macam kemungkinan pilihan: (1)sikap setuju atau menentang tersebut sama sekali tidak bersangkut paut dengan masalah nilai; (2)sikap tersebut bersangkutan dengan sesuatu yang tidak hakiki; (3) sikap tersebut merupakan ‘sumber pertama serta ciri yang tetap dari segenap nilai. Kemungkinan pertama kiranya sudah jelas. Kemungkinan kedua berarti bahwa, misalnya sikap tersebut ditimbulkan pleh sesuatu kualitas nilai, tetapi bukan merupakan bagian dari hakekatnya.
NILAI IALAH KEPENTINGAN. Menurut ralph barton perry setiap objek yang ada dalam kenyataan maupun dalam pikiran, setiap perbuatan yang dilakukan maupun yang dipikirkan, dapat memperoleh nilai jika pada suatu ketika berhubungan subjek-subjek yang mempunyai kepentingan. Dengan kata lain, jika seseorang mempunyai kepentingan pada suatu apapun, maka hal tersebut mempunyai nilai. Sesungguhnya tidak ada suau hal pun yang dapat disebut tetapi tidak dapat diletaki nilai tertentu, bedasarkan kenyataan hal tertentu telah dipilih mencapai tujuan yang masuk akal oleh sesuatu pemikiran yang mempunyai kepentingan.
SEJUMLAH KEBERATAN YANG DAPAT DIAJUKAN. Agaknya ajaran perry hendak menempatkan segenap nilai sepenuhnya dalam kedudukan yang ditentukan oleh manusia. Artinya, bagi orang yang tidak mempunyai kepentingan pada katakanlah kesusilaan, maka etika tidak bernilai. Begitupula halnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang benar. Tetapi dalam kenyataanya orang merasa bahwa kebenaranya, kebaikan, dan keadilan mempunyai nilai, atau bernilai, tanpa mengingat ada atau tidaknya kepentingan seseorang terhadap hal-hal tersebut.
Pemahaman mengenai perbedaan dalam macam-macam nilai seharusnya menyebabkan orang mengadakan pembedaan pula mengenai macam-macam kepentingan, dengan cara berpikir demikian berrarti bahwa nilai-nilai tetap berhubungan dengan kepentingan-kepentingan, tetapi tidak dipandan menurut kemauan sendiri dan seluruhnya bersifat nisbi, dalam arti tidak dipandang semata-semata bersifat subjektif. Bila kita renungkan makna kata ‘kepentingan’, kiranya kita cenderung mengatakan bahwa apabila seseorang mempunyai kepentingan pada barang sesuatu, maka yang demikian ini didasarkan atas alasan-alasan tertentu. Berhubung dengan itu, kebenaran itu bernilai karena dapat dipakai sebagai sarana memenuhi maksud-maksud tertentu.

3. Teori Pragmatis Mengenai Nilai

Sejumlah hal telah saya perbincangkan yang bersifat penolakan terhadap teori nilai yang didasarkan atas kepentingan kiranya memnyebabkan tampilan teori lain, yaitu teori pragmatis. Hendaknya diingat bahwa pragmatis mendasarkan diri atas akibat-akibat , dan begitu pula halnya dengan teori pragmatisme mengenai nilai.
NILAI SEBAGAI HASIL PEMBERIAN NILAI. Meskipun kebaikan kiranya bersangkutan dengan akibat-akibat, namun kebaikan itu tidak sekedar bersangkutan dengan hasil-hasil jangka pendekdari suatu keinginan yang dangkal.
Hubungan sarana –tujuan.
Dalam theory of valuation, Dewey mengatakan bahwa pemberian nilai menyangkut perasaan ,keinginan, dan sebagainya . pemberian nilai tersebut juga menyangkut tindakan akal untuk menghubungkan sarana dengan tujuan.seluruh keadaan harus di periksa ulang dan harus di ramalkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi , seelum orang dapat menetapkan nilai pada barang sesuatu atau perbuatan tertentu.
Menurut Dewey , masalah yang sebenarnya adalah pemberian nilai secara tepat , dan yang demikian ini besangkutan dengan campur-tangan akal secara aktif atau tanggapan-tanggapan yang di dasarkan fakta dan tujuan –tujuan yang terbayang .pemberian nilai berarti berkenaan dengan bahan-bahan factual yang sudah tersedia dan berdasarkan atas bahan-bahan tersebut perbuatan-perbuatan serta objek-objek dapat di hubungkan dengan tujuan-tujuan yang terbayang.pemberian nilai adalah “ketentuan-ketentuan penggunaan berkaitan dengan kegiatan manusia melalui generalisasi-generalisasi ilmiaah sebagai sarana menspai tujuan –tujuan yang di harapkan”. Jika seseorang hendak menilai kebenaran pernyataan-pernyataan manapun ,maka yang diperlukan adalah pengetahuan mengenai sejumlah fakta tertentu dan juga tujuan-tujuan yang hendak dicapai dengan jalan mengadakan perbuatan-perbuatan serta pernyataan-pernyataan tersebut.
Sarana dan tujuan tidak terpisahkan.
Dewey juga memperingatkan agar orang tidak hanya mempertimbangkan tujuaan sebagai pembenaran bagi setiap macam sarana yang digunakan, karena sarana itu sendiri dapat menimbulkan akibat-akibat yang berbeda sama sekali dengan apa yang dikehendaki atau di ramalkan.
Nilai-nilai yang diciptakan oleh situasi kehidupan.
Peberian nilai,seperti halnya semua proses akali , bermula hanya apabila orag menghadapi sesuatu masalah.Artinya, bermula pada suatu keadaan yang didalamnyaa terdapat ktegangan dan tiadanya ketertiban.menurut Dewey, setiap situasi menciptakan nilai-nilai. Berhubung dengan itu sesungguhnya tidak ada nilai-nilai yang abadi , yang ada hanyalah nilai-nilai yang berubah –ubah, yang tergantung pada keadaan . selama hasil penilaian anda memajukan tujuan-tujuan bersama ,maka selama itu hasil penilaian tujuan tersebut benar.
Ketidaksepaakatan mengenai niilai-nilai .
dalam hal semacam ini Dewey akan mengatakan bahwa ketidaksepakatan itu ada dua macam , yaitu ketidaksepakatan factual dan ketidak sepakatan semu.jika sepakat mengenai tujuan yang hendak di capai , maka pastilah ketidaksepakatan tersebut menyangkut cara-cara yang dikehendaki untuk dilakukan dalam mencapai tujuan dengan menggunakan sarana-srana tertentu. Misaalnya, dua orang dokter mungkin bersepakat bahwa melestarikan jiwa seseorang merupakan tujuan yang di kehendaki , tetapi mereka mungkin tidak sepakat mengenai sarana-sarana yang di gunakan untuk melestarikan jiwa seseorang yang sedang sakit. Yang demikian ini di namakan ketidaksepakatan faktual.
Sebaliknya jika terdapat ketidaksepakatan mengenai tujuan , maka sesungguhnya dalam hal ini tidak munggkin terdapat pertentangan pendapat. Karena sudah jelas bahwa apa yang dapat mendorong tercapainya suatu keadaan yang lain, misalnya , orang yang satu menginginkan uang, sedangkan orang yang lain menghendaki benda tak bergerak . dalam hal ini sesungguhnya yang terdapat ialah ketidaksepakatan semu belaka.
4.Nilai sebagai esensi.
Keberadaan nilai-nilai dari sudut ontology.
Adalah menarik bahwa kaum pragmaatis memahamkan hubungan antara nilai dengan yang tahu yang sedemikian rupa sehingga dalam hal ini pandangan mereka dekat dengan pandangan kaum idealis. Sesungguhnya nilai-nilai merupakan hasil ciptaaan yang –tahu( subjek yang mengetahui). Hanya saja kaum idealis , memandang nilai sebagai satuan-satuan yang merupakan kenyatan satuan-satuan yang sejk semula sudah terkandung dalam susunan kenyataan itu sendiri.
Nilai sebagai esensi.
Apakah nilai di cari untuk di temukan karena sifat intrinsic yang melekat padanya ,atau apakah hal-hal tertentu menjadi nilai karena kita menginginkannya sebagai nilai-nilai ? jika nilai merupakan nilai karena kita yang menciptakannya , maka tentu kita akan dapat membuat baik menjadi buruk daan buruk menjadi baik. Yang demikian ini kiranya bertentangan dengan kenyataan; dengan cara yang bagaimanapun kita ingin membuat buruk menjadi baik , ia tetap buruk juga dan demikian pula sebaliknya. Dalam sejumlah peristiwa tertentu kita mungkin memberikan tanggapan secara tidak tepat , namun ada suatu sifat tetap yang melekat pada yang baik atau pada yang –bernilai yang tidak dapat di sangkal .sesungguhnya nilai-nilai ada ada kenyataan , namun tidaklah bereksistensi . berhubung dengan itu nilai-nilai tersebut haruslah merupakan esensi-esensi , yang terkandung dalam barang sesuatu serta perbuatan- perbuatan .sebagai esensi, nilai tidak bereksisstensi , nanun ada dalam kenyataan . nilai-nilai dapat di katakan mendasari barang sesuatu dan bersifat tetap. Jika orang mengatakan “perdamaian merupakan sesuatu yang bernilai”. Maka ia memahami bahwa didalam hakekat perdamaian itu terdapat nilai yang mendasarinya .
Esensi bukan merupakan kualitas.
Esensi tidak dapat di tangkap secara inderawi . ini berarti , memahami nilai tidak dapat dilakukan sebaimana kita memahami warna.sesungguhnyya nilai-nilai di pahami secara langsung melalui apa yang di namakan ‘indera nilai’.penetahuan mengenai nilai berfifat a proiri , dalam pengertian , tidak tergantung pada pengalaman dalam arti kata yang biasa. Nilai-nilai diketahui secara langsung , baik orang dapat/tidak dapat menangkapnya.menurut Hartman, nilai bukanlah merupakan kualitas , melainkan merupakan esensi

Kamis, 29 Desember 2011

Rivalitas dan Konflik Supporter di INDONESIA

I. PENDAHULUAN

Tidak ada yang salah dari fanatisme terhadap salahsatu klub sepakbola. Dukungan supporter dengan cara-caranya tersendiri terhadap tim kesayangannya adalah hal yang lumrah dalam dunia sepakbola baik nasional maupun internasional. Loyalitas yang berdampingan dengan fanatisme supporter-supporter di tanah air telah menjadi “bumbu-bumbu penyedap” disetiap perhelatan sepakbola di tanah air. Tak jarang hal ini memancing perhatian insan-insan sepakbola internasional yang melihat antusiasme dan fanatisme masyarakat Indonesia terhadap dunia sepakbola sebagai hal yang luar biasa. Fanatisme, antusiasme, dan loyalitas para supporter di Indonesia dapat dikatakan sejajar dengan supporter-supporter di liga-liga internasional. Bahkan Franz Beckenbeuer terkaget-kaget melihat Fanatisme, antusiasme, dan loyalitas para supporter di Indonesia (Kita dapat melihat bahwa Indonesia sebagai negara yang berada di wilayah Asia Tenggara, memiliki atmosfir sepakbola yang bagus dilihat dari sudut antusiasme penonton di setiap perhelatan sepakbola).
Sayangnya atmosfir sepakbola yang bagus ini tidak didukung oleh jiwa sportifitas baik dari kalangan penyelenggara sepakbola, insan-insan yang terlibat langsung dalam sebuah pertandingan sepakbola dan pemain keduabelas dari sebuah tim sepakbola Supporter. Pernyataan ini bukan tanpa bukti, peristiwa-peristiwa seperti kerusuhan, bentrokan, atau perkelahian baik diluar maupun di dalam sebuah pertandingan kerap terjadi. Kepemimpinan wasit, ketidaksiapan Panpel (baik masalah tiket ataupun kenyamanan selama menonton pertandingan) dan ulah sejumlah oknum dalam memprovokasi keributan adalah contoh-contoh penyulut dari hal tersebut. Dapat digarisbawahi bahwa mental sportifitas rasanya belum sikron dengan fanatisme insan-insan sepakbola di Indonesia.
Satu hal lagi yang paling sering menyulut kerusuhan, bentrokan, atau perkelahian dalam dunia sepakbola di Indonesia adalah masalah rivalitas diantara klub-klub sepakbola. Sebetulnya tidak ada yang salah mengenai rivalitas antara klub-klub sepakbola asal dalam koridor sportifitas. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa sulit menghindari gesekan-gesekan antar supporter dalam rivalitas tidak hanya di Indonesia di dunia internasional pun hal ini kerap terjadi. Namun, supporter-supporter di luar sana mungkin bisa mensinkronisasikan antara fanatisme dengan sportifitas sehingga fanatisme mereka tidak jatuh dalam fanatisme yang sempit. Mereka sedikitnya masih bisa menerima perbedaan, bisa duduk berdampingan dalam sebuah pertandingan dengan warna yang berbeda. Itulah yang tidak dimiliki oleh sebagian jiwa-jiwa fanatisme di Indonesia

II. RIVALITAS DAN KONFLIK SUPPORTER YANG TERJADI

Jiwa-jiwa fanatisme sepakbola di Indonesia telah jatuh kedalam jurang fanatisme yang sempit sehingga mereka sangat sulit menerima perbedaan, mereka telah dibutakan oleh kebencian terhadap rivalnya dan lebih parahnya budaya-budaya seperti ini telah menyebar kepada generasi-generasi baru supporter di Indonesia (Liat saja anak-anak kecil yang sudah bisa menyanyikan yel-yel kebencian terhadap salah satu klub di Indonesia, padahal apakah sebenarnya mereka mengerti. Jiwa-jiwa fanatisme sempit ini kemudian menjelma menajadi sebuah komunitas yang khusus menebarkan kebencian-kebencian terhadap rival mereka atau yang lebih dikenal dengan sebutan Divisi Propaganda dari sebuah komunitas supporter (Mungkin mereka mengikuti jejak Hitler ketika mempropagandakan Fasisme). Mereka dapat dibilang sangat pintar dalam menyebarkan propaganda-propaganda yang secara garis besar menyangkut rivalitas. Hal tersebut ditunjang dengan media internet yang sekarang menjadi mudah untuk diakses masyarakat sehingga mereka lebih leluasa dalam melancarkan aksinya. Dilihat dari segi psikologis, faktor-faktor seperti kebencian-kebencian yang berlebihan, sakit hati atas tindakan-tindakan rival mereka dan egosentris yang menguasai pikiran mungkin menjadi latar belakang mereka bersatu membentuk sebuah divisi propaganda tersebut. Dilain pihak keberadaan suatu divisi propaganda sebuah supporter juga pastinya akan memicu kemunculan divisi propaganda dari supporter-supporter yang lain dan pada akhirnya adu propaganda pun tak dapat dihindarkan.
Hasil dari propaganda-propaganda tersebut dapat dilihat dari nyanyian atau yel-yel ketika sebuah tim bertanding, nada-nada hinaan terhadap klub rival lebih sering terdengar dibandingkan dengan nyanyian atau yel-yel untuk menyemangati pemain ketika bertarung di lapangan. Atribut-atribut seperti baju dan atribut lain yang bernada hinaan terhadap klub rival juga semakin tersebar luas di masyarakat. Bahkan untuk ukuran anak kecil pun ada, lebih parah pembuatan atribut-atribut yang mengandung unsur rivalitas tidak hanyan diproduksi oleh divisi propaganda saja, produsen-produsen yang hanya memikirkan segi komersil pun ikut meramaikan atribut-atribut yang berbau rivalitas (secara tidak langsung para pedagang-pedagang atribut pun menjelma sebagai divisi propaganda dadakan). Satu hal lagi yang paling sering menyulut kerusuhan, bentrokan, atau perkelahian dalam dunia sepakbola di Indonesia adalah masalah rivalitas diantara klub-klub sepakbola. Sebetulnya tidak ada yang salah mengenai rivalitas antara klub-klub sepakbola asal dalam koridor sportifitas. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa sulit menghindari gesekan-gesekan antar supporter dalam rivalitas tidak hanya di Indonesia di dunia internasional pun hal ini kerap terjadi. Namun, supporter-supporter di luar sana mungkin bisa mensinkronisasikan antara fanatisme dengan sportifitas sehingga fanatisme mereka tidak jatuh dalam fanatisme yang sempit. Mereka sedikitnya masih bisa menerima perbedaan, bisa duduk berdampingan dalam sebuah pertandingan dengan warna yang berbeda. Itulah yang tidak dimiliki oleh sebagian jiwa-jiwa fanatisme di Indonesia
Fenomena perilaku kekerasan penonton yang terjadi dalam sepakbola telah menyebabkan banyak kerugian, tidak saja bagi orang-orang yang berpartisipasi langsung dalam sepakbola itu sendiri, seperti organisasi sepakbola, dan pemerintah daerah penyelenggara, tetapi juga bagi masyarakat pada umumnya. Pada setiap penyelenggaraan Liga Sepakbola Indonesia, perilaku buruk yang ditunjukkan para penonton sepakbola Indonesia masih sering terjadi sampai sekarang. Tidak ada satu solusi yang mampu memecahkan persoalan kekerasan dalam olahraga sepakbola ini, karena faktor pemicunya banyak, juga tak ada solusi yang sederhana, karena penyebabnya begitu kompleks. Penelitian ini lebih diarahkan pada pemahaman konsep kekerasan yang dilakukan oleh penonton sepakbola pada umumnya, khususnya penonton sepakbola yang berada di Stadion Siliwangi Bandung, selama berlangsungnya Liga Sepakbola Indonesia yang berlangsung di stadion Siliwangi Bandung. Penelitian ini menggunakan paradigma penelitian kualitatif, dengan desain Studi Kasus. Data penelitian dikumpulkan melalui observasi berpartisipasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Subjek penelitian adalah para penonton sepakbola di stadion Siliwangi Bandung yang terpilih oleh peneliti sesuai dengan ciri-ciri yang sudah ditentukan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa.
1. Tindakan kekerasan kebanyakan dilakukan oleh para penonton tertentu yang sudah berpengalaman dalam menonton sepakbola,
2. Peristiwa kekerasan terjadi di dalam dan di luar stadion,
3. Karakteristik perilaku kekerasan antara lai: tindakan kekerasan tidak direncanakan dan aktivitasnya sebentar,
4. Kondisi-kondisi yang menyebabkan terjadinya tindakan kekerasan antara lain: harapan yang tinggi akan kemenangan tim, keterikatan yang kuat dengan tim, tingkat ketegangan yang tinggi, kehadiran penonton lawan di stadion, kekalahan tim terus-menerus, petugas lapangan yang dianggap kurang kompeten memimpin pertandingan, kehadiran petugas keamanan.
5. Tindakan kekerasan penonton bisa berawal dari perilaku pemain di lapangan atau keributan penonton di tempat lain dan menyebar ke arah penonton lainnya.
6. Konflik atau yang menyebabkan rivalitas terjadi karena adanya unsur judi yang di lakuka para supporter
7. Konflik yang menyebabkan rivalitaspun terjadi karena adanya dorongan akibat mengkonsumsi minuman keras.
8. Adanya provokator dari pihak-pihak tertentu


III. LANDASAN TEORI

Konflik lahir dari kenyataan akan adanya perbedaan-perbedaan baik dari ciri badaniah, emosi, kebudayaan, kebutuhan, kepentingan maupun pola-pola prilaku antar individu atau kelompok dalam masyarakat. Perbedaan-perbedaa ini memuncak menjadi konflik ketika sistem sosial masyarakat tidak dapat mengakomodasi perbedaan-perbedaan tersebut. Perasaan-perasaan seperti amarah dan rasa benci sedemikian rupa mendorong masing-masing pihak untuk menekan atau menghancurkan individu atau kelompok menjadi lawan. Diketahui bahwa sebuah konflik selalu disertai dengan luapan-luapan perasaan tidak suka, benci, dan amarah. Dari luapan-luapan perasaan tersebut timbul keinginan untuk menghancurkan lawan atau pihak lain. Apabila keinginan tersebut diwujudkan dalam sebuah tindakan ‘menghancurkan lawan’ maka pada saat itulah terjadi kekerasan. Dengan demikian dapat kita katakan bahwa kekerasan adalah bentuk lanjutan dari sebuah konflik sosial. Konflik adalah proses sosial dimana orang perorangan atau kelompok manusia berusaha untuk memenuhi tujuannya menantang pihak lawan yang disertai dengan ancaman atau kekerasan. Proses sosial yang terjadi di sini dimulai dari usaha mempertajam perbedaan diantara individu-individu atau kelompok-kelompok yang diantara lain menyangkut ciri fisik, emosi, unsur-unsur kebudayaan, pola-pola prilaku, gagasan, pendapat serta kepentingan sehingga akhirnya terjadi pertikaian/pertentangan yang tujuanya adalah mengalahkan pihak lawan dengan cara ancaman atau kekerasan. Ancaman kekerasan disini merupakan salah satu piliha terakhir, sebab apabila pihak “mereka” sebelumnya sudah bersedia menerima kekalahan dalam arti mau menerima tuntutan dari pihak “kami”, maka ancaman kekerasan batal dilaksanakan .
Namun demikian, perbedaan atau perselisihan dalam hubungan sosial yang intim merupakan potensi konflik yang sewaktu-waktu daat lebih meledak atau menghancurkan dari pada konflik yang terjadi dalam hubungan sosial parsial. Dalam hubungan yang intim, umumnya orang menekan rasa permusuhan demi menghindari konflik. Namun hal itu akan menyebabkan akumulasi permusuhan yang sewaktu-waktu bisa meledak. Tindakan yang mengabaikan perbedaan pendapat itu tidak ada artinya bila suatu konflik itu meledak. Bila hal itu terjadi, masalah atau elemen tambahan juga dapat muncul ke permukaan. Konflik dan rivalitas merupakan yang banyak dijumpai dalam kenyataan hidup manusia sebagai mahluk sosial: kategori statistik, kategori sosial, kelompok sosial, kelompok tidak teraturm dan organisasi formal. Dasar dari adanya kelompok-kelompok tersebut tipe-tipenya dapat diukur dari faktor-faktor berikut:
1. kesadaran akan identitas kelompok
2. adanya hubungan kelompok
3. orientasi pada tujuan yang telah disepakati
Hal-hal yang mengawali suatu konflik antar kelompok sosial adalah:
- ambiguitas peranan.
- persaingan dalam memperoleh sesuatu yang nilainya tinggi.
- kesalingketergantungan/interdependensi dari tugas.
- hambatan-hambatan komunikasi.
- konflik-konflik yang sebelumnya tidak diatasi secara nyata.
- perbedaan dalam persepsi-ersepsi individuual.
- perbedaan dalam kpribadian, kebutuhan, nilai, norma, kepentingan, dan tujuan.

IV. KESIMPULAN



Tidak ada yang salah dari fanatisme terhadap salahsatu klub sepakbola. Dukungan supporter dengan cara-caranya tersendiri terhadap tim kesayangannya adalah hal yang lumrah dalam dunia sepakbola baik nasional maupun internasional. Loyalitas yang berdampingan dengan fanatisme supporter-supporter di tanah air telah menjadi “bumbu-bumbu penyedap” disetiap perhelatan sepakbola di tanah air. Jiwa-jiwa fanatisme sepakbola di Indonesia telah jatuh kedalam jurang fanatisme yang sempit sehingga mereka sangat sulit menerima perbedaan, mereka telah dibutakan oleh kebencian terhadap rivalnya dan lebih parahnya budaya-budaya seperti ini telah menyebar kepada generasi-generasi baru supporter di Indonesia (Liat saja anak-anak kecil yang sudah bisa menyanyikan yel-yel kebencian terhadap salah satu klub di Indonesia, padahal apakah sebenarnya mereka mengerti. Jiwa-jiwa fanatisme sempit ini kemudian menjelma menajadi sebuah komunitas yang khusus menebarkan kebencian-kebencian terhadap rival mereka atau yang lebih dikenal dengan sebutan Divisi Propaganda dari sebuah komunitas supporter (Mungkin mereka mengikuti jejak Hitler ketika mempropagandakan Fasisme)