SITUASI KELOMPOK SOSIAL
I. pendahuluan
Sejak individu itu dilahirkan di dunia ini ia selalu dilingkupi oleh benda-benda. Kemudian terjadi interaksi dengan individu-individu yang lain di dalam kelompok, sehingga dapat membentuk individu menjadi Sejak individu dilahirkan di dunia ini ia selalu dilingkupi oleh benda-benda. Kemudian person dan mengubah sifat-sifat aslinya menjadi sifat-sifat kemanusiaan. Baik suku-suku yang masih sederhana maupun orang-orang modern yang hidup di kota besar selalu berinteraksi dalam kelompok sosialnya
Melalui kelompok itulah individu dapat memuaskan keseluruhan kebutuhan yang fundamental dan memperoleh kesempurnaan yang bebas. Tapi sebaliknya melalui kelompok itu pula dia dapat merasakan kekecewaan dan mengalami kesulitan-kesulitan yang amat sangat. Misalnya dengan adanya upacara-upacara. Keller misalnya menggambarkan upacara inisiatif laki-laki dan wanita diantara beberapa suku bangsa di Australia secara detail. Pada waktu umur 12 tahun mereka di beri tes-tes keberanian, tubuhnya dilukis dengan jarum dilempar ke laut dan sebagainya. Manusia tidak mungkin hidp tanpa kelompok, justru kelompok sosiallah yang menjadikan manusia dapat tumbuh dan berkembang sebagaimana wajarnya.
II. Rumusan Masalah
1. Jenis-jenis Kelompok Sosial
2. Ciri-ciri kelompok sosial
3. Norma kelompok dan norma sosial
III. Pembahasan
1. Jenis-jenis kelompok sosial
Situasi yang dihadapi individu, terbagi menjadi dua macam.
1. Situasi kebersamaan
Situasi kebersamaan artinya suatu situasi berkumpulnya sekumpulan individu secara bersama-sama.
Situasi kebersamaan menimbulkan kelompok kebersamaan, yaitu suatu kelompok individu yqang berkumpul pada suatu ruang dan waktu yang sama tumbuh dan mengarahkan tingkah laku secara sepontan. Kelompok ini disebut juga dengan massa atau crowd
Menurut Kinch, ciri-ciri masa adalah
a. Bertanggung jawab dalam waktu yang relatif pendek
b. Para pesertanya berhubungan secara fisik (misalnya, berdesak-desakan)
c. Kurang adanya aturan yang terorganisir
d. Interaksinya bersifat spontan.
2. Situasi kelompok Sosial
Situasi kelompok sosial artinya, suatu situasi ketika terdapat dua individu atau lebih mengadakan interaksi sosial yang mendalam satu sama lain.
Situasi kelompok sosial tersebut menyebabkan terbentuknya kelompok sosial, artinya suatu kesatuan sosial yang terdiri atas dua atau lebih individu yang telah mengadakan interkasi sosial yang cukup intensif dan teratur sehingga diantara individu itu sudah terdapat pembagian tugas, struktur, dan norma-norma tertentu.
Secara umum, kelompok sosial tersebut diikat oleh beberapa faktor berikut.
a. Bagi anggota kelompok, suatu tujuan yang realistis, sederhana, dan memilii nilai keuntungan bagi pribadi.
b. Masalah kepemimpinan dalam kelompok cukup berperan dalam menentukan kekuatan ikatan antar anggota.
c. Interaksi dalam kelompok secara seimbang merupakan alat perekat yang baik dalam membina kesatuan dan persatuan anggota .
Jadi kelompok-kelompok sosial tersebut adalah himpunan atau kesatuan-kesatuan manusia yang hidup bersama, oleh karenanya adanya antar hubungan antar mereka.
Hubungan tersebut antara lain menyangkut hubungan timbal balik yang saling pengaruh mempengaruhi dan juga suatu kesadaran untuk saling tolong menolong, setra adanya suatu organisasi antar anggotanya. Timbul suatu pertanyaan, “Apakah setiap himpunan manusia dapat dinamakan kelompok sosial ?”
Untuk menampakan kelompok sosial diperlakukan beberapa persyaratan diantara lain:
1. Kesadaran berkelompok
Setiap anggota kelompok tersebut harus sadar bahwa dia merupakan sebagian dari kelomok yang bersangkutan.
2. Interaksi sosial
Ada hubungan timbal-balik antara anggota yang satu dengan anggota yang lainya.
3. Organisasi sosial
Terdapat sesuatu struktur organisasi dan suatu faktor, yang dimiliki bersama oleh anggota-anggota kelompok-kelompok itu, sehingga hubungan antara mereka bertambah erat. Faktor tadi merupakan nasib yang sama, dan lain-lain.
dari beberapa definisi itu cenderung kepada definisi yang dikemukakan oleh Sherif Sherif, yaitu:
kelompok adalah suatu unit sosial atau kesatuan sosial dapat hanya terdiri atas dua atau lebih individu y6ang telah mengadakan interaksi sosial yang cukup intensif dan teratur, sehingga diantara individu itu sudah terdapat pembagian tugas, struktur, dan norma-norma tertentu yang khas bagi kelompok itu.
Dari batasan ini dapat diketahui bahwa kelompok sosial dapat hanya terdiri atas dua orang individu saja, misalnya keluarga yang terdiri atas suami dan isteri.
Pasangan suami isteri merupakan bentuk kelompok sosial yang terkecil, sedangkan ada pula kelompok sosial yang anggotanya ratusan bahkan ribuan misalnya: Partai Politik. Jenis-jenis kelompok yang lain Kelompok Rukun Tetangga, Organisasi Kesenian, Sarjana, dan sebagainya .
2. CIRI-CIRI KELOMPOK SOSIAL
Menurut Sherif and Sherif, Kleompok sosial adalah suatu kesatuan sosial yang tediri atas dua individu atau lebih yang telah mengadakan interaksi sosial yang cukup intensif dan teratur, sehingga di antara invidu itu sidah terdapat pembagian tugas, struktur dan norma-norma tertentu, yang khas bagi kesatuan tersebut.
Dari rumusan ini nyata bahwa kelompok sosial yang terdiri dari dua kelompok individu saja seperti sepasang suami istri dapat dimasukan dalam rumusan “Kelompok sosial”. Pendapat lain mengatakan: kelompok sosial adalah hubungan dua orang atau lebih yang ada hubungan psikologis yang mencolok. Misalnya: orang yang duduk dalam bis tidak dapat disebt kelompok sosial sebab tidak ada hubungan psikologis.
Kelompok sosial dapat digolong-golongkan dalam bermacam-macam jenisnya. Charles H. Cooly memebedakan kelompok berdasarkan susunan dan organisasi, yaitu primary group (kelompok premier) dan secondary-group (kelompok sekunder).
Ciri-ciri kelompok Primer
1) Dalam kelompok primer terdapat interaksi sosial yang lebih erat diantara aggota-anggotanya. Dalam kelompok itu ada hubungan face to face antara anggota-anggotanya, yaitu hubungan yang benar-benar kenal satu sama lain. Maka kelompok premier ini disebut: face-to-face group.
2) Sering hubungganya bersifat irrasional dan tidak didasarkan atas pamrih. Di dalam kelompok primer manusia selalu mengembangan sifat-sifat sosialnya seperti menggindahkan norma-norma, melepaskan kepentinggan sendiri demi kepentingan kelompok dan sebagainya
Ciri-ciri kelompok sekunder
1) Kelompok terbentuk atas dasar kesadaran dan kemauan dari para anggotanya. Interaksi dalam kelompok sekunder terdiri atas saling hubungan yang tidak langsung berjauhan atas formal, kurang bersifat kekeluargaan. Hubungan-hubuungan tersebut biasanya lebih objektif.
2) Peranan atau fungsi kelompok sekunder dalam kehidupan manusia adalah untuk mencapai salah satu tujuan tertentu dalam masyarakatdengan bersama, secara objek dan rasional, misalnya: organisasi partai politik, perhimpunan, serikat kerja, dan sebagainya.
Di samping kelompok primer dan sekunder, juga ada kelompok yang berbeda dengan kelompok primer dan sekunder. Oleh Kimball young (seorang ahli ilmu jiwa sosial ) kelompok ini disebut : “massa society”. Kebanyakan kelompok yang disebut ini berasal dari kelompok sekunder yang mengalami perkembangan lebih hebat.
Adapun ciri-cirinya:
1. Rasional, hubungan satu sama lain berdasar perhitungan untung rugi. Akibatnya hubungan itu menjadi Impersonal, jadi alat pemuas kebuthan saja.
2. Adanya spesialisasi peranan yang sangat ekstrem, misalnya dokter tidak boleh mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang lain.
3. Timbul perasaan kurang tentram dan kurang erat hubungan antara anggota-anggotanya. Manusia setiap saat seolah-olah merasa diancam oleh manusia lain, dan ancaman ini dirumuskan makin lama makin hebat, akibatnya juga kurang tentram. Oleh karena itu jiwa manusia dalam massa society selalu tegang takut dan tidak mendapatkan kepuasan hidup.
Terdapat pula pembagian kelompok sosial kedalam informal group ( kelompok tidak resmi ) dan formal group (kelompok resmi). Atau kelompok informal dan kelompok formal.
a. Kelompok tidak resmi (informal)
Ciri-cirinya
- Tidak mempunyai anggaran dasar dan anggaran rumah tangga tertulis.
- Mempunyai pedoman-pedoman tingkah laku anggota-anggotanya, tetapi tidak dirumuskan secara tegas dan tertulis
- Bersifat tidak kekeluargaan. Bercorak pertimbangan-pertimbangan rasional dan obyektif.
b. Kelompok Resmi (formal)
Ciri-cirinya:
- Mempunyai anggaran dasar dan anggaran rumag tangga tertulis.
- Mempunyai pedoman-pedoman tingkah laku yang dirumuskan secara tegas dan tertulis
- Bersifat tidak kekeluargaan, bercorak pertimbangan-pertimbangan rasional dan obyektif.
Selanjutnya dalam anggota suatu kelompok sering terdapat perasaan ikatan, dan perasaan dalam kelompok atau in-group. Sebaliknya terhadap orang luar terdapat perasaan yang disebut perasaan luat kelompok atau out group.
Perasaan in-group disertai perasaan persaudaraan, dan anggota kelompok sendiri dipandang sebagai “asing”, “orang lain” dan sebagainya. Dan perasaan out-group biasanya lebih dingin, bahkan kadang-kadang disertai perasaan permusuhan.
Dalam suatu kelompok biasanya terdapat kecendrungan untuk menganggap segala yang termasuk di dalamnya lingkungan kelompok sendiri sebagai utama, nail, riil, logis, sesuai dengan kkodrat alam dan sebagainya. Sedangkan segala yang berbeda dan tidak termasuk kelompok sendiri, dipandang kurang baik, ajaib, tidak susiala, bertentangan dengan kehendak alam dan sebagainya .
3. NORMA KELOMPOK DAN NORMA SOSIAL
Kelompok terbentuk karena adanya komunikasi, terjadinya kelompok karena individu berkomunikasi dengan yang lain sama-sama memiliki motif dan tujuan. Dua orang atau lebih yang bekerja sama dalam suatu hubungan fungsional satu sama lain inilah yang akan membentuk suatu kelompok. Anggota kelompok mungkin tidak pernah bertemu, mereka berhubungan melalui korespondensi atau perantara yang lain. Kelompok mungkin terbentuk secara kebetulan atau secara tiba-tiba. Suatu kelompok yang telah terbentuk cenderung untuk memiliki ciri-ciri tertentu. Mereka akan mengembangkan suatu struktur yang mengatur hubungan dan kedudukan masing-masing anggota di dalam kelompok.
Di dalam berbagai kelompok orang mengadakan beragai perana sosial sesuai dengan corak kelompok masing-masing. Di dalam kelompok manusia seperti sekarang ini orang bebas memasuki kelompok sesuai dengan kebutuhan baik mengenai kesukuannya, pendapatnya atau keyakinannya. Ada kelompok yang mendasarkan akan agama, keturunan, hobby, pandangan hidup, tempat tinggal dan pekerjaan. Masing masing kelompok memeliki norma sosial yang berbeda. Oleh karen itu dalam hal multiple group membership kadang-kadang orang harus mengadakan penyesuaian norma antara kelompok yang satu dengan yang lain. Perbedaan norma di sini kadang-kadang hanya skedar perbedaan saja, tetapi suatu ketika dapat bertentangan. Orang harus menyesuaikan diri sesuai dengan kedudukanya dalam masing-masing keanggotaan kelompok.
Norma kelompok adalah norma-norma tingkah laku yang khas antara anggota-anggota kelompok. Namun ini bukan berarti norma rata-rata mengenai tingkah laku yang sebenarnya terjadi dalam kelompok itu, melainkan merupakan pedoman-pedomanuntuk tingkah laku individu. Jadi norma-norma kelompok itu berkenaan dengan cara-cara tingkah laku yang diharapkan dari semua anggota kelompok dalam keadaan yang berhubungan dengan kehidupan dan tujuan interaksi kelompok. Pengertian norma di sini digunakan dalam arti norma ideal, norma tentang bagaimana keadaan selanjutnya. Dalam pada itu norma kelompok memberi pedoman mengenai tingkah laku mana dan sampai batas mana masih diterima oleh kelompok dan tingkah laku anggota yang mana tidak diperbolehkan lagi oleh kelompok. Misalnya kelompk dapat memiliki norma-norma mengenai batas-batas tingkah laku yang solider terhadap anggota kelompok dan mengenai batas-batas tingkah laku yang tidak solider.
Dalam kelompok resmi norma-norma tingkah laku ini biasanya sudah tercantum dalam anggran rumah tangga atau dalam anggaran dasarnya. Bahkan norma-norma tingkah laku anggota suatu negara telah tetulis dalam undang-undang atau buku hukum pidana atau buku hukum lainya. Apabila dalam suatu kelompok terdapat penghargaan-penghargaan dan hukum-hukum tertentu atas bermacam-macam tingkah laku, maka sudah dapat diambil kesimpulan, bahwa dalam kelompok itu terdapat norma-normanya, walaupn kadang-kadang norma tersebut tidak secara tertulis.
Norma kelompo dan norma sosial tidak akan timbul dengan sendirinya, melainkan terjadi dalam interaksi sosial antara individu dalam kelompok sosial. Norma sosial senantiasa terjadi bersama dengan adanya interaksi manusia dalam kelompok, dengan kata lain: norma sosial adaah hasi daripada interaksi sosial antara anggota suatu kelompok.
Norma sosial merupakan pengertian yang meliputi bermacam-macam hasil interaksi kelompok, baik hasil interkasi daripada kelompok-kelompok telah lampau, maupun hasil interkasi kelompok yang sedang berlangsung. Termasuk padanya semua nilai-nilai harga sosial-sosial, ada istiadat, konvensi dan sebagainya.
Norma sosial adalah patokan-patokan umum mengenai tingkah laku maupun sikap individu anggota kelompok yang dikehendaki oleh kelompok mengenai bermacam-macam hal yang berhubungan dengan kehidupan kelompok yang melahirkan norma-norma itu. Dalam pada itu tidak semua kelompok mempunya norma-norma tingkah laku dan sikap-sikap mengenai situasi yang dihadapi oleh anggota-anggota kelompok itu dalam interaksinya.
Adapun macam-macam norma sosial tersebut:
1. Norma Kelaziman (volkways)
yaitu norma-norma yang dikutip tanpa berpikir panjang melainkan hanyalah berdasarkan atas tradisi/kebiasaan.
2. Norma Kesusilaan
Kesusilaan itu biasanya dihubungkan dengan keyakinan keagamaan. Barang siapa yang melanggar kesusilaan biasanya tidak ada hukumanya
3. Norma Hukum, ada 2 macam
Yang tertulis misalnya: hukum pidana, hukum perdata dan lain-lain.
Yang tidak tertulis misalnya: hukum adat.
Orang yang melanggar akan mendapat sangsi/hukuman.
4. Mode (Fashion)
Perbuatan ini biasanya dilakukan dengan tiru-tiru atau isenk-isenk saja.
Norma inilah yang mengikat kesatuan kelompok tiap-yiap anggota dalam kelompok mengakui, memakai, mentaati in group didasari adanya perasaan pengakuan satu norma yang sama
Di masing-masing kelompok, norma sosial dapat bersifat:
1. Tertulis, yaitu dalam bentuk peraturan-peraturan tertulis, diatur secara tertulis sanksi atas pelanggaranya.
2. Tidak tertulis, berupa kebiasaan-kebiasaan, tradisi dan adat istiadat yang semuanya tidak tertulis.
Pelanggaran terhadap norma yang tetulis dikenai sanksi yang sudah diatur pada peraturan-peraturan tertulis.
Pelanggaran terhadap norma yang tidak dan tetulis memang tidak diatur secara tertulis, tetapi tetap memiliki sanksi juga, kebanyakan bersifat tekanan psikis misalnhya dikeluarkan dari keanggotaan kelompok, diasingkan, disindir, dan tekanan-tekanan yang lain .
Konseptentang nilai telah dibicarakan dan bagaimana nilai itu membentuk prilaku telah pula di ungkapkan. Secara sederhana, norma-norma yang merupakan pedoman atau patokan prilaku itu sebenarnya bersumber dari nilai-nilai, oleh karena pedoman-pedoman prihal prilaku itu didasarkan pada konsepsi-konsepsi yang abstrak tentang apa yang baik dan apa yang buruk apa yang seharusnya dan apa yang buruk .
IV. Kesimpulan
Situasi kelompok sosial tersebut menyebabkan terbentuknya kelompok sosial, artinya suatu kesatuan sosial yang terdiri atas dua atau lebih individu yang telah mengadakan interkasi sosial yang cukup intensif dan teratur sehingga diantara individu itu sudah terdapat pembagian tugas, struktur, dan norma-norma tertentu.
Dari rumusan ini nyata bahwa kelompok sosial yang terdiri dari dua kelompok individu saja seperti sepasang suami istri dapat dimasukan dalam rumusan “Kelompok sosial”. Pendapat lain mengatakan: kelompok sosial adalah hubungan dua orang atau lebih yang ada hubungan psikologis yang mencolok. Misalnya: orang yang duduk dalam bis tidak dapat disebt kelompok sosial sebab tidak ada hubungan psikologis.
Kelompok terbentuk karena adanya komunikasi, terjadinya kelompok karena individu berkomunikasi dengan yang lain sama-sama memiliki motif dan tujuan. Dua orang atau lebih yang bekerja sama dalam suatu hubungan fungsional satu sama lain inilah yang akan membentuk suatu kelompok. Anggota kelompok mungkin tidak pernah bertemu, mereka berhubungan melalui korespondensi atau perantara yang lain. Kelompok mungkin terbentuk secara kebetulan atau secara tiba-tiba. Suatu kelompok yang telah terbentuk cenderung untuk memiliki ciri-ciri tertentu. Mereka akan mengembangkan suatu struktur yang mengatur hubungan dan kedudukan masing-masing anggota di dalam kelompok.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar